Minggu, 8 Januari 2017
Pukul 22:33 WIB
TEORI KEPUASAN KERJA & CONTOH KASUS
Afni Wulandari
3PA18
10514407
1. Kepuasan Kerja
A. Definisi Kepuasan Kerja
Steve
M. Jex (2002:131) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai “tingkat
afeksi positif seorang pekerja terhadap pekerjaan dan situasi pekerjaan.” Bagi
Jex, kepuasan kerja melulu berkaitan dengan sikap pekerja atas pekerjaannya.
Sikap tersebut berlangsung dalam aspek kognitif dan perilaku. Aspek kognitif
kepuasan kerja adalah kepercayaan pekerja tentang pekerjaan dan situasi
pekerjaan: Bahwa pekerja yakin bahwa pekerjaannya menarik, merangsang,
membosankan atau menuntut. Aspek perilaku pekerjaan adalah kecenderungan
perilaku pekerja atas pekerjaannya yang ditunjukkan lewat pekerjaan yang
dilakukan, terus bertahan di posisinya, atau bekerja secara teratur dan
disiplin.
Kepuasan kerja
biasanya didefinisikan sebagai tingkat pengaruh positif karyawan terhadap
pekerjaannya atau situasi pekerjaan (Locke, 1976: Spector, 1977). Pengaruh
positip pada definisi ini dapat ditambahkan komponen kognitif dan perilaku, hal
ini sesuai dengan cara psikologis social mendefinisikan sikap (Zanna &
Rempel, 1988). Kepuasan kerja nyatanya adalah sikap karyawan terhadap
pekerjaannya
A.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Faktor yang memberikan
kepuasan kerja menurut Blum (1956) sebagai berikut:
(1) Faktor individual, meliputi umur, kesehatan,
watak dan harapan;
(2) Faktor sosial, meliputi hubungan
kekeluargaan, pandangan masyarakat, kesempatan berkreasi, kegiatan
perserikatan pekerja, kebebasan berpolitik, dan hubungan kemasyarakatan;
(3) Faktor utama dalam pekerjaan, meliputi upah,
pengawasan, ketentraman kerja, kondisi kerja, dan kesempatan untuk maju. Selain
itu juga penghargaan terhadap kecakapan, hubungan sosial di dalam pekerjaan,
ketepatan dalam menyelesaikan konflik antar manusia, perasaan diperlakukan adil
baik yang menyangkut pribadi maupun tugas.
Menurut Gilmer (dalam As’ad,1998)
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja sebagai berikut:
(1) Kesempatan untuk maju, dalam hal ini ada
tidaknya kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan peningkatan kemampuan
selama kerja;
(2) Keamanan kerja. Faktor ini sering disebut
sebagai penunjang kepuasan kerja, baik bagi karyawan pria maupun wanita.
Keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan karyawan selama kerja;
(3) Gaji, lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan jarang orang mengekspresikan kepuasan
kerjanya dengan sejumlah uang yang diperolehnya;
(4) Perusahaan dan manajemen. Perusahaan dan
manajemen yang baik adalah yang mampu memberikan situasi dan kondisi kerja yang
stabil. Faktor ini yang menentukan kepuasan kerja karyawan;
(5) Pengawasan (Supervise), Bagi karyawan,
supervisor dianggap sebagai figur ayah dan sekaligus atasannya. Supervisi yang
buruk dapat berakibat absensi dan turn over;
(6) Faktor intrinsik dari pekerjaan. Atribut
yang ada pada pekerjaan mensyaratkan ketrampilan tertentu. Sukar dan mudahnya
serta kebanggaan akan tugas akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan;
(7) Kondisi kerja, termasuk di sini adalah kondisi
tempat, ventilasi, penyinaran, kantin dan tempat parkir;
(8)Aspek sosial dalam pekerjaan,
merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak puas dalam kerja; (9)Komunikasi. Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak manajemen banyak dipakai alasan untuk menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar, memahami dan mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja; (10)Fasilitas. Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.(
merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak puas dalam kerja; (9)Komunikasi. Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak manajemen banyak dipakai alasan untuk menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar, memahami dan mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja; (10)Fasilitas. Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.(
B.
Dimensi Pengukuran Kepuasan Kerja
Dalam meneliti
kepuasan kerja, peneliti harus menggunakan ukuran. Ukuran suatu konsep adalah
variabel. Variabel satu dengan variabel lain ditentukan berdasarkan dimensi
konsep. Dimensi pengukuran kepuasan kerja cukup bervariasi. Stephen Robbins
mengajukan empat variabel yang mampu mempengaruhi kepuasan kerja seseorang
yaitu:
(1)
Pekerjaan menantang secara mental;
Pekerjaan yang menantang secara mental –
Pekerja cenderung memiliki pekerjaan yang memberikan kesempatan mereka
menggunakan keahlian dan kemampuan serta menawarkan variasi tugas, kebebasan,
dan umpan balik seputar sebaik mana pekerjaan yang mereka lakukan. Pekerjaan
yang kurang menantang cenderung membosankan, sementara pekerjaan yang terlalu
menantang cenderung membuat frustasi dan rasa gagal. Di bawah kondisi
moderat-menantang, sebagian besar pekerja akan mengalami pleasure and kepuasan
(2)
Reward memadai;
Reward yang memadai – Kecenderungan
pekerja dalam menginginkan sistem penghasilan dan kebijakan promosi yang
diyakini adil, tidak mendua, dan sejalan dengan harapannya. Saat pekerja
menganggap bahwa penghasilan yang diterima setimpal dengan tuntutan pekerjaan,
tingkat keahlian, dan sama berlaku bagi pekerja lainnya, kepuasan akan muncul.
Tidak semua pekerja mencari uang, dan sebab itu promosi merupakan alternatif
lain kepuasan kerja. Banyak pula pekerja yang mencari kewenangan, promosi, perkembangan
pribadi, dan status sosial.
(3)
Kondisi kerja mendukung
Kondisi kerja yang mendukung –
Perhatian pekerja pada lingkungan kerja, baik kenyamanan ataupun fasilitas yang
memungkinkan mereka melakukan pekerjaan secara baik. Studi-studi membuktikan
bahwa pekerja cenderung tidak memiliki lingkungan kerja yang berbahaya atau
tidak nyaman. Temperatur, cahaya, dan faktor-faktor lingkujngan lain tidaklah
terlampau ekstrim. Mereka juga cenderung berkerja di lokasi yang dekat rumah,
menggunakan fasilitas moderen, serta peralatan kerja yang mencukupi.
(4)
Kolega mendukung
Kolega yang mendukung – Pekerja,
selain bekerja juga mencari kehidupan sosial. Tidak mengejutkan bahwa dukungan
rekan kerja mampu meningkatkan kepuasan kerja seorang pekerja. Perilaku atasan
juga sangat mempengaruhi kepuasan kerja seseorang. Studi membuktikan bahwa
kepuasan kerja meningkat tatkala supervisor dianggap bersahabat dan mau
memahami, melontarkan pujian untuk kinerja bagus, mendengarkan pendapat
pekerja, dan menunjukkan minat personal
terhadap mereka
C.
Tujuan Pengukuran Kepuasan Kerja
Tujuan pengukuran kepuasan kerja bagi para karyawan adalah :
1) Mengidentifikasi
kepuasan karyawan secara keseluruhan, termasuk kaitannyadengan tingkat urutan
prioritasnya (urutan faktor atau atribut tolak ukur kepuasan yang dianggap penting
bagi karyawan). Prioritas yang dimaksuddapat berbeda antara para karyawan dari
berbagai bidang dalam organisasiyang sama dan antara organisasi yang satu
dengan yang lainnya.
2) Mengetahui
persepsi setiap karyawan terhadap organisasi atau perusahaan.Sampai seberapa
dekat persepsi tersebut sesuai dengan harapan mereka danbagaimana
perbandingannya dengan karyawan lain.
3) Mengetahui
atribut–atribut mana yang termasuk dalam kategori kritis(critical perfoment
attributes) yang berpengaruh secara signifikan terhadapkepuasan karyawan.
Atribut yang bersifat kritis tersebut merupakan prioritasuntuk diadakannya
peningkatan kepuasan karyawan.
4) Apabila
memungkinkan, perusahaan atau instansi dapat membandingkannyadengan indeks
milik perusahaan atau instansi saingan atau yang lainnya(Kuswadi, 2004:55-56).
D.
Dampak Dari Kepuasan dan Ketidakpuasan Kerja
Terhadap Produktivitas Kerja
Banyak pendapat
yang menyatakan bahwa produktivitas dapat dinaikkandengan menaikkan kepuasan
kerja, namun hasil penelitian tidak mendukung pandangan ini, karena hubungan
antara produktivitas kerja dengan kepuasan kerja sangat kecil. Produktivitas
kerja dipengaruhi oleh banyak faktor - faktormoderator disamping kepuasan
kerja. Lawler dan Porter berpendapat produktivitas yang tinggi menyebabkan
peningkatan dari kepuasan kerja jika tenaga kerja mempresepsikan bahwa ganjaran
intrinsik (misalnya rasa telahmencapai sesuatu) dan ganjaran intrinsik
(misalnya gaji) yang diterima kedua -duanya adil dan wajar dibuktikan dengan
unjuk kerja yang unggul
Terhadap Kemangkiran Dan Keluarnya Tenaga Kerja
Ketidakhadiran lebih bersifat spontan dan kurang
mencerminkanketidakpuasan kerja, berbeda dengan berhenti atau keluar dari
pekerjaan. Steersdan Rhodes mengembangkan model pengaruh dari kehadiran. Ada
dua faktorpada perilaku hadir yaitu motivasi untuk hadir dan kemampuan untuk
hadir.Mereka percaya bahwa motivasi untuk hadir dipengaruhi oleh kepuasan
kerja.
Model meninggalkan pekerjaan dari Mobley, Horner, dan
Hollingworth menunjukkan bahwa setelah tenaga kerja menjadi tidak puas terjadi
beberapatahap (misalnya berfikir untuk meninggalkan pekerjaan) sebelum
keputusan untuk meninggalkan pekerjaan diambil. Menurut Robbins (1998)
ketidakpuasan kerjapada karyawan dapat diungkapkan melalui berbagai cara
misalkan selain meninggalkan pekerjaan, karyawan dapat mengeluh, membangkang,
mencuribarang milik organisasi, menghindar dari tanggung jawab ( Ashar Sunyoto
M,2001:365 - 366 ).
E.
Indikator Pengukuran Kepuasan Kerja
Penelitian dari Spector (Yuwono, 2005, p. 69) mendefinisikan kepuasan sebagai cluster perasaan evaliatif tentang pekerjaan dan ia dapat mengidentifikasikan indikator kepuasan kerja dari sembilan aspek yaitu :
1. Upah : jumlah dan rasa keadilannya
2. Promosi : peluang dan rasa keadilan untuk mendapatkan promosi
3. Supervisi : keadilan dan kompetensi penugasan menajerial oleh penyelia
4. Benefit: asuransi, liburan dan bentuk fasilitas yang lain
5. Contingent rewards : rasa hormat, diakui dan diberikan apresiasi
6. Operating procedures : kebijakan, prosedur dan aturan
7. Coworkers : rekan kerja yang menyenangkan dan kompeten
8. Nature of work : tugas itu sendiri dapat dinikmati atau tidak
9. Communication : berbagai informasi didalam organisasi (vebal maupun nonverbal)
Penelitian dari Spector (Yuwono, 2005, p. 69) mendefinisikan kepuasan sebagai cluster perasaan evaliatif tentang pekerjaan dan ia dapat mengidentifikasikan indikator kepuasan kerja dari sembilan aspek yaitu :
1. Upah : jumlah dan rasa keadilannya
2. Promosi : peluang dan rasa keadilan untuk mendapatkan promosi
3. Supervisi : keadilan dan kompetensi penugasan menajerial oleh penyelia
4. Benefit: asuransi, liburan dan bentuk fasilitas yang lain
5. Contingent rewards : rasa hormat, diakui dan diberikan apresiasi
6. Operating procedures : kebijakan, prosedur dan aturan
7. Coworkers : rekan kerja yang menyenangkan dan kompeten
8. Nature of work : tugas itu sendiri dapat dinikmati atau tidak
9. Communication : berbagai informasi didalam organisasi (vebal maupun nonverbal)
F.
Teori Kepuasan Kerja
Menurut A. A. Prabu Mangkunegara (2009:117), berpendapat
bahwa ada empat teori kepuasan kerja, antara lain :
1. Teori keseimbangan
Teori ini dikemukakan oleh Wexley dan yukl, mengaatakan
bahwa semua nilai yang diterima pegawai yang dapat menunjang pelaksanaan kerja.
Misalnya, pendidikan, pengalaman, skill, usaha, perlatan pribadi, dan jam
kerja.
2. Teori perbedaan
Teori ini pertama kali dipelopori oleh Proter yang berpendapat
bahwa mengukur kepuasan dapat dilakukan dengan cara menghitung selisih anatara
apa yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan pegawai. Sedangkan Locke
megemukakan bahwa kepuasan kerja pegawai bergantung pada perbedaan antara apa
yang didapat dan apa yang diharapkan oleh pegawai.
3. Teori pemenuhan kebutuhan
Menurut teori ini, kepuasan kerja pegawai bergantung pada
terpenuhi atau tidaknya kebutuhan pegawai. Pegawai akan meras puas apabila ia
mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Makin besar kebutuhan pegawai terpenuhi,
makin puas pula pegawai tersebut. Begiti pula sebaliknya apabila kebutuhan
pegawai tidak terpenuhi , pegawai akan merasa tidak puas.
4. Teori pandangan kelompok
Menurut teori ini, kepuasan kerja pegawai bukanlah
bergantung pada pemenuhan kebutuhan saja, tetapi sangat bergantung pada
pandangan dan pendapat kelompok yang oleh para pegawai dianggap sebagai
kelompok cuan. Kelompok acuan tersebut dijadikan tolak ukur untuk menilai
Teori-Teori tentang Kepuasan Kerja
Menurut Wexley dan Yukl (1977) teori-teori tentang kepuasan kerja ada tiga macam yang lazim dikenal yaitu:
1.Teori Perbandingan Intrapersonal (Discrepancy Theory)
Kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh individu merupakan hasil dari perbandingan atau kesenjangan yang dilakukan oleh diri sendiri terhadap berbagai macam hal yang sudah diperolehnya dari pekerjaan dan yang menjadi harapannya. Kepuasan akan dirasakan oleh individu tersebut bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan kecil, sebaliknya ketidakpuasan akan dirasakan oleh individu bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan besar.
2. Teori Keadilan (Equity Theory)
Seseorang akan merasa puas atau tidak puas tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan atau tidak atas suatu situasi. Perasaan equity atau inequity atas suatu situasi diperoleh seseorang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor, maupunditempat lain.
3. Teori Dua – Faktor (Two Factor Theory)
Prinsip dari teori ini adalah bahwa kepuasan dan ketidakpuasan kerja merupakan dua hal yang berbeda. Menurut teori ini, karakteristik pekerjaan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yang satu dinamakan Dissatisfier atau hygiene factors dan yang lain dinamakan satisfier atau motivators.
Contoh kasus :
Menurut Wexley dan Yukl (1977) teori-teori tentang kepuasan kerja ada tiga macam yang lazim dikenal yaitu:
1.Teori Perbandingan Intrapersonal (Discrepancy Theory)
Kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh individu merupakan hasil dari perbandingan atau kesenjangan yang dilakukan oleh diri sendiri terhadap berbagai macam hal yang sudah diperolehnya dari pekerjaan dan yang menjadi harapannya. Kepuasan akan dirasakan oleh individu tersebut bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan kecil, sebaliknya ketidakpuasan akan dirasakan oleh individu bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan besar.
2. Teori Keadilan (Equity Theory)
Seseorang akan merasa puas atau tidak puas tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan atau tidak atas suatu situasi. Perasaan equity atau inequity atas suatu situasi diperoleh seseorang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor, maupunditempat lain.
3. Teori Dua – Faktor (Two Factor Theory)
Prinsip dari teori ini adalah bahwa kepuasan dan ketidakpuasan kerja merupakan dua hal yang berbeda. Menurut teori ini, karakteristik pekerjaan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yang satu dinamakan Dissatisfier atau hygiene factors dan yang lain dinamakan satisfier atau motivators.
Contoh kasus :
Seorang manajer SDM di salah satu PT harian umum lebih
memilih untuk aktif juga dalam organisasi di luar meskipun upah yang
diterimanya sudah mencukupi. Hal ini disebabkan karena tidak ada lagi tantangan
dalam pekerjaannya sebagai seorang manajer selama bertahun-tahun, sehingga upah
tidak lagi menjadi kepuasannya dalam bekerja melainkan keaktifan dan tantangan
baru merupakan hal yang dia rasa sebagai suatu kepuasan.
Daftar pustaka
Steve M. Jex. (2002). Organizational
Psychology: A Scientist Practitioner Approach. New York : John Wiley &
Sons.
Paul E. Spector. (1997). Job
Satisfaction: Application, Assessment, Cause, and Consequences. Thousand
Oaks : Sage Publications.
P. Robbin, S. (2003). Perilaku
Organisasi. Jakarta : PT INDEKS kelompok GRAMEDIA
Moh. As’ad.( 1998). Psikologi
Industri. Yogyakarta : LIBERTY
Mangkunegara, A.A. (2007). Kepuasan kerja dalam sebuah perusahaan. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya