AFNI WULANDARI
3PA18
10514407
Pengertian psikoterapi
Psikoterapi adalah usaha penyembuhan untuk masalah yang
berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku. Psikoterapi (Psychotherapy)
berasal dari dua kata, yaitu "Psyche" yang artinya jiwa, pikiran atau
mental dan "Therapy" yang artinya penyembuhan, pengobatan atau
perawatan. Oleh karena itu, psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi
kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran.
Pengertian psikoterapi menurut beberapa tokoh:
1.
Watson & Morse (1977) Bentuk khusus dari interaksi
antara dua orang, pasien dan terapis, pada mana pasien memulai interaksi karena
ia mencari bantuan psikologik dan terapis menyusun interaksi dengan
mempergunakan dasar psikologik untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan
mengendalikan diri dalam kehidupannya dengan mengubah pikiran, perasaan dan
tindakannya.
2. Wolberg (1967 dalam Phares dan Trull 2001), mengungkapkan bahwa psikoterapi
merupakan suatu bentuk perlakuan atau tritmen terhadap masalah yang sifatnya
emosional. Dengan tujuan menghilangkan simptom untuk mengantarai pola perilaku
yang terganggu serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang
positif.
Tujuan psikoterapi
Tujuan
psikoterapi antara lain :
-Menghapus,
mengubah atau mengurangi gejala gangguan psikologis.
-Mengatasi pola
perilaku yang terganggu.
-Meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan kepribadian yang positif.
-Memperkuat
motivasi klien untuk melakukan hal yang benar.
-Menghilangkan
atau mengurangi tekanan emosional.
-Mengembangkan
potensi klien.
-Mengubah
kebiasaan menjadi lebih baik.
-Memodifikasi
struktur kognisi (pola pikiran).
-Memperoleh
pengetahuan tentang diri / pemahaman diri.
-Mengembangkan
kemampuan berkomunikasi dan interaksi sosial.
-Meningkatkan
kemampuan dalam mengambil keputusan.
-Membantu
penyembuhan penyakit fisik.
-Meningkatkan
kesadaran diri.
-Membangun
kemandirian dan ketegaran untuk menghadapi masalah.
Unsur psikoterapi
Masserman (Karasu 1984) telah
melaporkan tujuh “parameter pengaruh” dasar yang mencakup unsur-unsur lazim
pada semua jenis psikoterapi. Dalam hal ini termasuk :
1.Peran sosial (martabat) psikoterapis
2.Hubungan
(persekutuan terapeutik)
3.Hak
4.Retrospeksi
5.Re-edukasi
6.Rehabilitasi
7.Resosialisasi
dan rekapitulasi
Perbedaan konseling dan psikoterapi
Apabila kita
tinjau dari definisi kedua permbahasan tersebut, konseling Menurut Schertzer dan Stone (1980)
Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat
pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan
lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai
yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.
Sedangkan psikoterapi menurut
Wolberg (1967 dalam Phares dan Trull 2001), mengungkapkan bahwa psikoterapi
merupakan suatu bentuk perlakuan atau tritmen terhadap masalah yang sifatnya
emosional. Dengan tujuan menghilangkan simptom untuk mengantarai pola perilaku
yang terganggu serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang
positif.
Dari dua
definisi di atas kita bisa tarik kesimpulan mengenai dua pembahasan tersebut
bahwa konseling lebih terfokus pada interaksi antara konselor dan konseli dan
lebih mengutamakan pembicaraan serta komunikasi non verbal yang tersirat ketika
proses konseli berlangsung dan semacam memberikan solusi agar konseli dapat
lebih memahami lingkungan serta mampu membuat keputusan yang tepat dan juga
nantinya konseli dapat menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya.
Sedangkan
psikoterapi lebih terfokus pada treatment terhadap masalah sifatnya emosional
dan juga lebih dapat diandalkan pada klien yang mengalami penyimpangan dan juga
lebih berusaha untuk menghilangkan simptom-simptom yang di anggap mengganggu
dan lebih mengusahakan agar klien dapat meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan kepribadian ke arah yang positif
Perbedaan konseling dan psikoterapi
didefinisikan oleh Pallone (1977) dan Patterson (1973) yang dikutip oleh
Thompson dan Rudolph (1983), sebagai berikut:
|
KONSELING
|
PSIKOTERAPI
|
|
1. Klien
|
1. Pasien
|
|
2. Gangguan yang kurang serius
|
2. Gangguan yang serius
|
|
3. Masalah: Jabatan, Pendidikan, dsb
|
3. Masalah
kepribadian dan pengambilan
keputusan
|
|
4. Berhubungan dengan pencegahan
|
4. Berhubungan dengan penyembuhan
|
|
5. Lingkungan pendidikan dan non medis
|
5. Lingkungan medis
|
|
6. Berhubungan dengan kesadaran
|
6. Berhubungan dengan ketidaksadaran
|
|
7. Metode pendidikan
|
7. Metode penyembuhan
|
.
Pendekatan psikoterapi terhadap Mental Illnes
Pendekatan Psikoterapi Terhadap
Mental Illnes
a.
Menurut Chaplin (2011) ada beberapa
pendekatan psikoterapi terhadap mental illness, diantaranya:
BiologicalMeliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat.
BiologicalMeliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat.
b.
Menurut Dr. John Grey, Psikiater
Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu
itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
c.
PsychologicalMeliputi suatu
peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel
pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan,
gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang ditimbulkan. Selain itu
pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu
berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup
individu.
d.
SosiologicalMeliputi kesukaran pada
sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah
keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses
sosialisasi yang memiliki latar belakang kondisi sosio-budaya tertentu.
e.
PhilosophicKepercayaan terhadap
martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan
nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni
menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah
keharusan atau pemaksaan.
TERAPI PSIKOANALISIS
Konsep dasar teori psikoanalisis tentang kepribadian
KESADARAN
Sigmund Freud mengemukakan bahwa kehidupan
jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar
(preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Topografi atau peta kesadaran ini
dipakai untuk mendiskripsi unsur cermati (awareness) dalan setiap event mental
seperti berfikir dan berfantasi. Sampai dengan tahun 1920an, teori tentang
konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur kesadaran itu.
Baru pada tahun 1923 Freud
mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni id, ego, dan superego.
Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi
melengkapi/menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau tujuannya
(lihat representasi grafik struktur kepribadian pada Gambar 1. Enam elemen
pendukung struktur kepribadian itu adalah sebagai berikut:
a) Sadar
(Conscious)
Tingkat kesadaran yang berisi semua
hal yang kita cermati pada saat tertentu. Menurut Freud, hanya sebagian kecil
saja Bari kehidupan mental (fikiran, persepsi, perasaan dan ingatan) yang masuk
kekesadaran (consciousness). Isi daerah sadar itu merupakan basil proses
penyaringan yang diatur oleh stimulus atau cue-eksternal.
b) Prasadar (Preconscious)
Disebut juga ingatan siap (available
memory), yakni tingkat kesadaran yang menjadi jembatan antara sadar dan
taksadar. Isi preconscious berasal dari conscious dan clan unconscious.
Pengalaman yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari tetapi kemudian tidak
lagi dicermati, akan ditekan pindah ke daerah prasadar. Di sisi lain, isi-materi
daerah tak sadar dapat muncul ke daerah prasadar. Kalau sensor sadar menangkap
bahaya yang bisa timbul akibat kemunculan materi tak sadar materi itu akan
ditekan kembali ke ketidaksadaran. Materi taksadar yang sudah berada di daerah
prasadar itu bisa muncul kesadaran dalam bentuk simbolik, seperti mimpi,
lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan diri.
c) Tak Sadar (Unconscious)
Tak sadar adalah bagian yang paling
dalam dari struktur kesadaran dan menurut Freud merupakan bagian terpenting
dari jiwa manusia. Secara khusus Freud membuktikan bahwa ketidaksadaran
bukanlah abstraksi hipotetik tetapi itu adalah kenyataan empirik
.
Ketidaksadaran itu berisi
insting, impuls dan drives yang dibawa dari lahir, dan pengalaman-pengalaman
traumatik (biasanya pada masa anak-anak) yang ditekan oleh kesadaran dipindah
ke daerah taksadar. Isi atau materi ketidaksadaran itu memiliki kecenderungan
kuat untuk bertahan terus dalam ketidaksadaran, pengaruhnya dalam mengatur
tingkahlaku sangat kuat namun tetap tidak disadari.
STRUKTUR KEPRIBADIAN
Sigmund Freud mengemukakan tiga struktur spesifik
kepribadian yaitu Id, Ego dan Superego. Ketiga struktur tersebut diyakininya
terbentuk secara mendasar pada usia tujuh tahun. Struktur ini dapat ditampilkan
secara diagramatik dalam kaitannya dengan aksesibilitas bagi kesadaran atau
jangkauan kesadaran individu. Id merupakan libido murni atau energi psikis yang
bersifat irasional. Id merupakan sebuah keinginan yang dituntun oleh prinsip
kenikmatan dan berusaha untuk memuaskan kebutuhan ini.
1. Id.
Id ini adalah merupakan bagian dari
komponen kepribadian yang asli/ natural yang dibawa sejak lahirnya seorang
individu. Id juga merupakan komponen dari psikologi yang mempunyai sifat
primitif dan naluriah. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis,
sehingga komponen utama kepribadian. Id akan didorong oleh prinsip kesenangan,
yang berusaha untuk mendapatkan kepuasan segera dari semua
keinginan dan kebutuhan. Jika
kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka hasilnya adalah kecemasan atau ketegangan.
Contoh mudahnya adalah bila seorang bayi menangis karena lapar atau pun haus
maka ia akan mengkomunikasikan hal tersebut kepada ibunya dengan cara menangis.
Karena dengan adanya peningkatan rasa lapar atau haus yang dirasakan bayi atau
anak maka ia harus menghasilkan upaya segera untuk mendapatkan makan atau
minum. Id ini sangat penting awal dalam hidup, karena itu memastikan bahwa
kebutuhan bayi terpenuhi dengan baik.
2. Ego .
Prinsip kepribadian jenis ego ini
adalah seputar mengenai hal yang berhubungan dengan realitas serta kenyataan
yang ada. Ego ini juga dimulai serta dibawa sejak lahir, tetapi berkembang
bersamaan dengan hubungan individu dengan lingkungan sekitarnya. Untuk bisa
bertahan dalam suatu kehidupan, maka individu tersebut tidak bisa hanya
semata-mata bertindak sekedar mengikuti impuls-impuls atau dorongan-dorongan,
individu harus belajar menghadapi realitas yang ada. Dan ini lebih kompleks
dari sekedar Id saja.
Contoh mudahnya adalah bila seorang
anak merasakan lapar maka ia akan akan berusaha untuk mendapatkan makanan untuk
mengatasi rasa laparnya. Hanya saja sekarang ia akan berusaha melihat
kenyataanbagaimana cara mendapatkan makanan dengan baik tanpa ada yang merasa
disalahkan atau pun ia salah dalam melakukan tindakan mendapatkan makanan
terbut karena didorong oleh rasa laparnya tersebut.
Menurut Freud, ego adalah struktur
kepribadian yang berurusan dengan tuntutan realita, yang berisi penalaran
dan pemahaman yang tepat. Ego berusaha menahan tindakan sampai dia memiliki
kesempatan untuk memahami realitas secara akurat, memahami apa yang sudah
terjadi didalam situasi yang berupa dimasa lalu, dan membuat rencana yang
realistik dimasa depan. Tujuan ego adalah menemukan cara yang realistis dalam
rangka memuaskan Id. Fungsi ego ini juga berguna untuk menyaring
dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh Id berdasarkan kenyataan yang ada.
3. Super Ego .
Super Ego atau pun aspek sosiologis
adalah merupakan sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan
aturan-aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut hal yang berhubungan dengan
baik- buruk). Super ego lebih merupakan kesempurnaan daripada kesenangan,
karena itu super ego dapat dianggap sebagai aspek moral daripada kepribadian itu
sendiri.
Dan juga merupakan aspek kepribadian
yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita
peroleh dari kedua orang tua serta masyarakat. Superego memberikan pedoman
untuk membuat sebuah penilaian.
Fungsi manfaat superego adalah :
- Sebagai pengendali dorongan-dorongan atau
impuls-impuls naluri id agar impuls-impuls tersebut disalurkan dalam cara atau
bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat.
- Mengarahkan ego pada tujuan-tujuan yang sesuai
dengan moral dari pada dengan kenyataan.
- Mendorong individu kepada kesempurnaan.
Bersama-sama dengan ego, super ego
mengatur dan mengarahkan tingkah laku manusia yang bermaksud untuk memuaskan
dorongan-dorongan dari Id, yaitu melalui aturan-aturan dalam masyarakat, agama,
atau keyakinan- keyakinan tertentu mengenai perilaku yang baik dan buruk. Freud
berpendapat manusia sebagai suatu sistem yang kompleks memakai energi untuk
berbagai tujuan seperti halnya bernafas, bergerak, mengamati, dan mengingat.
PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUAL
Tahap Perkembangan Psikoseksual
Sigmund Freud adalah salah satu teori yang paling terkenal, akan tetapi
juga salah satu teori yang paling kontroversial. Freud percaya kepribadian yang
berkembang melalui serangkaian tahapan masa kanak-kanak di mana mencari
kesenangan-energi dari id menjadi fokus pada area sensitif seksual tertentu.
Energi psikoseksual, atau libido , digambarkan sebagai kekuatan pendorong di
belakang perilaku.
Menurut Sigmund Freud, kepribadian
sebagian besar dibentuk oleh usia lima tahun. Awal perkembangan berpengaruh
besar dalam pembentukan kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku di kemudian
hari..
·
Fase Oral
Pada tahap oral, sumber utama bayi
interaksi terjadi melalui mulut, sehingga perakaran dan refleks mengisap adalah
sangat penting. Mulut sangat penting untuk makan, dan bayi berasal kesenangan
dari rangsangan oral melalui kegiatan memuaskan seperti mencicipi dan mengisap.
Karena bayi sepenuhnya tergantung pada pengasuh (yang bertanggung jawab untuk
memberi makan anak), bayi juga mengembangkan rasa kepercayaan dan kenyamanan
melalui stimulasi oral.
Konflik utama pada tahap ini adalah
proses penyapihan, anak harus menjadi kurang bergantung pada para pengasuh.
Jika fiksasi terjadi pada tahap ini, Freud percaya individu akan memiliki
masalah dengan ketergantungan atau agresi. fiksasi oral dapat mengakibatkan
masalah dengan minum, merokok makan, atau menggigit kuku.
·
Fase Anal
Pada tahap anal, Freud percaya bahwa
fokus utama dari libido adalah pada pengendalian kandung kemih dan buang air
besar. Konflik utama pada tahap ini adalah pelatihan toilet – anak harus
belajar untuk mengendalikan kebutuhan tubuhnya. Mengembangkan kontrol ini
menyebabkan rasa prestasi dan kemandirian.
Menurut Sigmund Freud, keberhasilan
pada tahap ini tergantung pada cara di mana orang tua pendekatan pelatihan
toilet. Orang tua yang memanfaatkan pujian dan penghargaan untuk menggunakan
toilet pada saat yang tepat mendorong hasil positif dan membantu anak-anak
merasa mampu dan produktif. Freud percaya bahwa pengalaman positif selama tahap
ini menjabat sebagai dasar orang untuk menjadi orang dewasa yang kompeten,
produktif dan kreatif.
Namun, tidak semua orang tua
memberikan dukungan dan dorongan bahwa anak-anak perlukan selama tahap ini.
Beberapa orang tua ‘bukan menghukum, mengejek atau malu seorang anak untuk
kecelakaan. Menurut Freud, respon orangtua tidak sesuai dapat mengakibatkan
hasil negatif. Jika orangtua mengambil pendekatan yang terlalu longgar, Freud
menyarankan bahwa-yg mengusir kepribadian dubur dapat berkembang di mana
individu memiliki, boros atau merusak kepribadian berantakan. Jika orang tua
terlalu ketat atau mulai toilet training terlalu dini, Freud percaya bahwa
kepribadian kuat-anal berkembang di mana individu tersebut ketat, tertib, kaku
dan obsesif.
·
Fase Phalic
Pada tahap phallic , fokus utama
dari libido adalah pada alat kelamin. Anak-anak juga menemukan perbedaan antara
pria dan wanita. Freud juga percaya bahwa anak laki-laki mulai melihat ayah
mereka sebagai saingan untuk ibu kasih sayang itu. Kompleks
Oedipusmenggambarkan perasaan ini ingin memiliki ibu dan keinginan untuk
menggantikan ayah.Namun, anak juga kekhawatiran bahwa ia akan dihukum oleh ayah
untuk perasaan ini, takut Freud disebut pengebirian kecemasan.
Istilah Electra kompleks telah
digunakan untuk menggambarkan satu set sama perasaan yang dialami oleh
gadis-gadis muda. Freud, bagaimanapun, percaya bahwa gadis-gadis bukan iri
pengalaman penis.
Akhirnya, anak menyadari mulai
mengidentifikasi dengan induk yang sama-seks sebagai alat vicariously memiliki
orang tua lainnya. Untuk anak perempuan, Namun, Freud percaya bahwa penis iri
tidak pernah sepenuhnya terselesaikan dan bahwa semua wanita tetap agak terpaku
pada tahap ini. Psikolog seperti Karen Horney sengketa teori ini, menyebutnya
baik tidak akurat dan merendahkan perempuan. Sebaliknya, Horney mengusulkan
bahwa laki-laki mengalami perasaan rendah diri karena mereka tidak bisa
melahirkan anak-anak.
·
Fase Latent
Periode laten adalah saat eksplorasi
di mana energi seksual tetap ada, tetapi diarahkan ke daerah lain seperti
pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap ini sangat penting dalam
pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi dan kepercayaan diri.
·
Freud menggambarkan fase latens sebagai salah satu yang relatif stabil.
Tidak ada organisasi baru seksualitas berkembang, dan dia tidak membayar banyak
perhatian untuk itu. Untuk alasan ini, fase ini tidak selalu disebutkan dalam
deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi sebagai suatu periode
terpisah.
·
Fase Genital
Pada tahap akhir perkembangan
psikoseksual, individu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis.
Dimana dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada kebutuhan individu, kepentingan
kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini. Jika tahap lainnya telah
selesai dengan sukses, individu sekarang harus seimbang, hangat dan peduli.
Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan keseimbangan antara berbagai
bidang kehidupan.
MEKANISME PERTAHANAN EGO
1.
Represi (Repression)
Bentuk pertahanan ego dengan menyingkirkan
pikiran-pikiran atau ingatan-ingatan yang tidak diinginkan. Ia akan sengaja
melupakan kenanganatau pikiran yang tidak menyenangkan atau tidak sesuai dengan
keinginannya.
Contoh : Seorang wanita yang diputuskan secara sepihak
oleh pacarnya. Karena ia tidak ingin mengingat kenangan-kenangan itu. Walaupun ia
sudah sengaja melupakannya alias kejadian ini tidak berlangsung berlarut-larut,
tetapi ingatan tersebut tetap membekas di pikiran bawah sadar dia dalam bentuk
trauma psikis.
2.
Kompensasi
Yaitu dengancara menutupi kelemahan dalam dirinya
dengan menonjol-nonjolkan sifat lain, lalu dicari kepuasans ecara berlebihan
dalam bidang lain tersebut.
Contoh :anak yang merasa tak pandai di sekolahnya
menjadi bersikap seolah-olah seperti
jagoan di sekolah agar ditakuti oleh teman-temannya.
3.
Konversi (Convertion),
Adalah mekanisme konflik emosional yang diekspresikan
keluar. Misal :Seseorang yang sedang stress menjadi marah-marah, teriak-teriak,
atau berolah raga.
4. Penyangkalanatau
Denial
Mekanisme dimana seseorang menghindari kenyataan dan
secara sadar menyangkal adanya
kenyataan tersebut. Ia menyangkal realita yang
dapat menimbulkan rasa sakit, malu, ataucemas.
Contoh :Seorang ibu yang tidak terima bahwa anaknya
terlahir dengan cacat sehingga ia
menitipkan anaknya ke saudaranya yang
jauh.
5.
Pemindahan (Displacement)
Dimana emosi-emosi yang terjadi pada dirinya
DILAMPIASKAN ke objek-objek atau orang lain.
Contoh :Seorang anak yang habis dimarahi ibunya.
Karena kesal, ia lalu memukul adiknya atau
menendang kucingnya.
6.
Disosiasi
Dengan cara memutuskan atau mengubah beban emosi dalam
dirinya.
Contoh :Seseorang yang sedih ditinggal mati oleh
kekasihnya, kemudian ia menghibur dirinya sendiri dengan mengatakan “sudah
takdirnya” atau “sekarang ia sudah bahagia di surga”.
7.
Identifikasi,
dimana seseorang mempertinggi harga dirinya dengan mempolakan dirinya
serupa dengan orang lain (biasanya seorang idola atau figur). Kemudian berusaha
menyamakan penampilan/dandandan, cara bicara, maupun logatnya.
Contoh :Seseorang yang ngefans berat dengan penyanyi Rhoma Irama,
lalu berdandan persis dengannya dan meniru gaya-gaya bicaranya.
8.
Proyeksi,
yaitu seseorang yang melindungi dirinya dari tabiat-tabiat, sikap,
dan karakternya sendiri, atau pun perasaannya dengan melemparkan atau
menyalahkannya ke orang lain.
Contoh :Seorang mahasiswa yang tidak lolos mata kuliah,
lalu ia mengatakan bahwa dosennya sentimen terhadap dirinya.
9.
Rasionalisasi,
seseorang yang mencarialasan-alasan yang
dibenarkanataudapatditerimaolehnormamaupun orang lain
terhadaptindakannyaataupikirannya.
Contoh :Seseorang yang diajak main bulutangkis menolak dengan beralasan
bahwa ia sedang sakit atau besok mau ujian, padahal karena takut kalah.
Contoh lain :Seseorang yang benci terhadap Justin Beiber, lau ia mengatakan
bahwa alasannya ia hanya tidak selera dengan genre lagu yang dinyanyikan oleh
JB, karena ia takutd imusuhi oleh fans-fans JB.
10. Pembentukan Reaksi,
proses dimana mengambil objek kedalam struktur egonya sendiri agar
tidak menuruti keinginannya yang jelek dan diambil sikap yang sebaliknya.
Contoh :Seorangmahasiswa yang bersikaphormatsecaraberlebihankepadadosen
yang paling tidakdisukai.
11. Regresi,
adalah keadaan seseorang yang kembali ketingkat awal menjadi kurang matang
dan kurang adaptif.
Contoh :Seorang anak yang lebih tua tiba-tiba kembali punya kebiasaan
hisap jempol atau mengompol karena ia merasa cemburu terhadap ibunya yang
terlalu memperhatikan adiknya.
12. Sublimasi,
yaitu kehendak-kehendak atau pikiran-pikiran atau tindakan-tindakan
asadar yang tidak dapat diterima oleh lingkungan atau masyarakat disalurkan
menjadia ktifitas yang memiliki nilai sosial yang tinggi.
Contoh :Seseorang yang sukaberkelahikemudianberalihmenjadiatletpetinju.
Unsur-Unsur Terapi
1.
Tujuan terapi Psikoanalisis
·
Membentuk kembali struktur karakter
individu dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari didalam diri klien
· Focus pada upaya
mengalami kembali pengalaman masa anak-anak
2.
Fungsi dan peran Terapis
Terapis / analis
membiarkan dirinya anonym serta hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalaman
sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada teapis / analis.
3.
Peran terapis
-
Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri,
kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani
kecemasan secara realistis
-
Membangun hubungan kerja dengan klien, dengan banyak
mendengar dan menafsirkan
-
Terapis
memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien
-
Mendengarkan kesenjangan-kesenjangan dan
pertentanga-pertentangan pada cerita klien
Teknik-Teknik
Terapi
Lima teknik dasar terapi psikoanalitik :
1) Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas adalah suatu
metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi
yang berkaitan dengan situasi traumatik di masa lampau yang dikenal dengan
sebutan katarsis. Selama proses asosiasi bebas berlangsung, tugas analis adalah
mengenali bahan yang direpres dan dikurung di dalam ketaksadaran.
Penghalangan-penghalangan atau pengacauan-pengacauan oleh klien terhadap
asosiasi-asosiasi merupakan isyarat bagi adanya bahan yang membangkitkan
kecemasan. Analis menafsirkan bahan itu dan menyampaikannya kepada klien,
membimbing klien ke arah peningkatan pemahaman atas dinamika-dinamika yang
mendasarinya, yang tidak disadari oleh klien.
2) Penafsiran
Penafsiran
adalah suatu prosedur dasar dalam menganalisis asosiasi-asosiasi bebas,
mimpi-mimpi, resistensi-resistensi dan transferensi-transferensi. Prosedurnya
terdiri atas tindakan-tindakan analis yang menyatakan, menerangkan, bahkan
mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh
mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh hubungan
terapeutik itu sendiri. Fungsi penafsiran-penafsiran adalah mendorong ego untuk
mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses penyingkapan bahan tak
sadar lebih lanjut. Dengan perkataan lain, analis harus bisa menafsirkan bahan
yang belum terlihat oleh klien, tetapi yang oleh klien bisa diterima dan diwujudkan
sebagai miliknya.
3) Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah
prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tak disadari dan memberikan
kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan.
Freud memandang mimpi-mimpi sebagai “jalan istimewa menuju ketaksadaranâ€, sebab melalui
mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan
yang tak disadari diungkap.
Mimpi-mimpi memiliki dua
taraf isi, yaitu laten dan isi manifes. Isi laten terdiri atas motif-motif yang
disamarkan, tersembunyi, simbolik dan tak disadari. Karena begitu mengancam dan
menyakitkan, dorongan-dorongan seksual dan agresif tak sadar yang merupakan isi
laten ditransformasikan ke dalam isi manifes yang lebih dapat diterima, yakni
impian sebagaimana yang tampil pada si pemimpi. Proses transformasi is laten
mimpi ke dalam isi manifes yang kurang mengancam itu disebut kerja mimpi. Tugas
analis adalah menyingkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol
yang terdapat pada isi manifes mimpi, selama jam analitik, analis bisa meminta
klien untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian guna
menyingkap makna-makna yang terselubung.
4) Analisis dan Penafsiran Resistensi
Resistensi adalah sesuatu
yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tak
disadari. Freud memandang resistensi sebagai dinamika tak sadar yang digunakan
oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan,
yang akan meningkat jika klien sadar atas dorongan-dorongan dan
perasaan-perasaan depresi itu. Resistensi ditunjukkan untuk mencegah bahan yang
mengancam memasuki ke kesadaran, analis harus menunjukannya, dan klien harus
menghadapinya jika dia mengharapkan bisa menangani konflik-konflik secara
realistis.
Resistensi-resistensi
bukanlah hanya sesuatu yang harus diatasi. Karena merupakan perwujudan dari
pendekatan-pendekatan defensif klien yang biasa dalam kehidupan sehari-harinya,
resistensi-resistensi harus dilihat sebagai alat bertahan terhadap kecemasan,
tetapi menghambat kemampuan klien untuk mengalami kehidupan yang lebih
memuaskan.
5) Analisis dan Penafsiran Transferensi
Transferensi mengejawantahkan
dirinya dalam proses terapeutik ketika “urusan yang tak selesai†di masa lampau
klien dengan orang-orang yang berpengaruh menyebabkan dia mendistorsi masa
sekarang dan bereaksi terhadap analis sebagaimana dia bereaksi terhadap ibu
atau ayahnya. Analisis transferensi adalah teknik yang utama dalam
psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya
dalam terapi. Penafsiran hubungan transferensi juga memungkinkan klien mampu
menembus: konflik-konflik masa lampau yang tetap dipertahankannya hingga
sekarang dan yang menghambat pertumbungan emosionalnya. Singkatnya efek-efek
psikopatologis dari hubungan masadini yang tidak diinginkan, dihambat oleh
penggarapan atas konflik emosional yang sama yang terdapat dalam hubungan
terapeutik dengan analis.
TERAPI
HUMANISTIK EKSISTENSIAL
Konsep Dasar Teori Dari Pandangan
Humanistik Eksistensial Tentang Perilaku Atau Kepribadian
Pendekatan
eksistensial berkembang sebagai reaksi atas dua model utama yang lain, yaitu
psikoanalisis dan behaviorisme. Kedudukan psikoanalisis bahwa kemerdekaan
terbatas pada kekuatan-kekuatan dorongan irasional dan peristiwa yang telah
lalu. Kedudukan behaviorisme bahwa kemerdekaan terbatas oleh pengkondisian
sosial budaya. Meskipun terapi eksistensial menerima premis bahwa pilihan kita
terbatas pada keadaan eksternal, terapi menolak pendapat yang mengatakan bahwa
kita ditentukan olehnya.
Terapi
eksistensial berdasarkan pada asumsi bahwa kita bebas dan oleh karenanya
bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil dan perbuatan yang kita lakukan.
Pandangan eksistensial didasarkan pada model pertumbuhan dan mengkonsepkan
kesehatan bukan keadaan sakit. Seperti yang ditulis Deurzen-Smith (1988),
konseling eksistensial tidak dirancang untuk menyembuhkan seperti tradisi model
medis. Klien tidak dipandang sebagai orang yang sedang sakit melainkan sebagai
orang yang merasa bosan atau kikuk dalam menjalani kehidupan
Psikologi eksistensial humanistic
berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang
menekankan pada pemahaman atas manusia alih – alih suatu system teknik –
teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Pendekatan terapi
eksistensial bukan suatu pendekatan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan
yang mencakup terapi – terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan
konsep – konsep dan asumsi – asumsi tentang manusia. ada beberapa konsep utama
dari pendekatan eksistensial yaitu:
1 - Kesadaran diri
Manusia
memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang
unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin
kuat kesadaran diri itu pada seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan
yang ada pada orang itu. Kesanggupan untuk memilih alternative – alternatif
yakni memutuskan secara bebas di dalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek
yang esensial pada manusia.
Manusia
memiliki kesanggupan untuk menyadari diri yang menjadikan dirinya mampu
melampaui situasi sekarang dan membentuk basis bagi aktivitas-aktivitas
berpikir dan memilih yang khas manusia. Kesadaran diri itu membedakan manusia
dari makhluk-makhluk lain. Manusia bisa tampil di luar diri dan berefleksi atas
keberadaannya. Pada hakikatnya, semakin tinggi kesadaran diri seseorang, maka
ia semakin hidup sebagai pribadi atau sebagaimana dinyatakan oleh Kierkegaard,
"Semakin tinggi kesadaran, maka semakin utuh diri seseorang."
Tanggung jawab berlandaskan kesanggupan untuk sadar. Dengan kesadaran,
seseorang bisa menjadi sadar atas tanggung jawabnya untuk memilih. Sebagaimana
dinyatakan oleh May (1953), "Manusia adalah makhluk yang bisa menyadari
dan, oleh karenanya, bertanggung jawab atas keberadaannya”.
Kesadaran bisa
dikonseptualkan dengan cara sebagai berikut: Umpamakan Anda berjalan di lorong
yang di kedua sisinya terdapat banyak pintu, Bayangkan bahwa Anda bisa membuka
beberapa pintu, baik membuka sedikit ataupun membuka lebar-lebar. Barangkali,
jika Anda membuka satu pintu, Anda tidak akan menyukai apa yang Anda temukan di
dalamnya menakutkan atau menjijikkan. Di lain pihak, Anda bisa menemukan sebuah
ruangan yang dipenuhi oleh keindahan. Anda mungkin berdebat dengan diri
sendiri, apakah akan membiarkan pintu itu tertutup atau terbuka. Apabila
seorang konselor dihadapkan pada konseli yang kesadaran dirinya kurang maka
konselor harus menunjukkan kepada konseli bahwa harus ada pengorbanan untuk
meningkatkan kesadaran diri. Dengan menjadi lebih sadar, konseli akan lebih
sulit untuk “ kembali ke rumah lagi“, menjadi orang yang seperti dulu lagi.
Dalam
pengertian yang sesungguhnya, peningkatan kesadaran diri yang mencakup
kesadaran atas alternatif-alternatif, motivasi-motivasi, faktor-faktor yang
membentuk pribadi dan atas tujuan-tujuan pribadi adalah tujuan segenap
konseling
2 - Kebebasan dan
tanggung jawab.
Manusia adalah
makhluk yang menentukan diri, dalam arti bahwa dia memiliki kebebasan untuk
memilih di antara altematif-altematif. Karena manusia pada dasarnya bebas, maka
dia harus bertanggung jawab atas pengarahan hidup dan penentuan nasibnya
sendiri. Pendekatan eksistensial meletakkan kebebasan, determinasi diri,
keinginan, dan putusan pada pusat keberadaan manusia. Jika kesadaran dan
kebebasan dihapus dari manusia, maka dia tidak lagi hadir sebagai manusia,
sebab kesanggupan-kesanggupan itulah yang memberinya kemanusiaan. Pandangan
eksistensial adalah bahwa individu, dengan putusan-putusannya, membentuk nasib
dan mengukir keberadaannya sendiri. Seseorang menjadi apa yang diputuskannya,
dan dia harus bertanggung jawab atas jalan hidup yang ditempuhnya. Tillich
mengingatkan, "Manusia benar-benar menjadi manusia hanya saat mengambil
putusan. Sartre mengatakan, "Kita adalah pilihan kita." Nietzsche
menjabarkan kebebasan sebagai "kesanggupan untuk menjadi apa yang memang
kita alami". Ungkapan Kierkegaard, "memilih diri sendiri", menyiratkan
bahwa seseorang bertanggung jawab atas kehidupan dan keberadaannya. Sedangkan
Jaspers menyebutkan bahwa "kita adalah makhluk yang memutuskan".
Tugas konselor
adalah mendorong konseli untuk belajar menanggung risiko terhadap akibat
penggunaan kebebasannya. Yang jangan dilakukan adalah melumpuhkan konseli dan
membuatnya bergantung secara neurotik pada konselor. Konselor perlu mengajari
konseli bahwa dia bisa mulai membuat pilihan meskipun konseli boleh jadi telah
menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk melarikan diri dari kebebasan
memilih
3 - Kecemasan
Kecemasan
adalah suatu karakteristik dasar manusia. Kecemasan tidak perlu merupakan
sesuatu yang patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasi yang kuat
untuk pertumbuhan. Kecemasan adalah akibat dari kesadaran atas tanggung jawab
untuk memilih. Kebanyakan orang mencari bantuan profesional karena mereka
mengalami kecemasan atau depresi. Banyak konseli yang memasuki kantor konselor
disertai harapan bahwa konselor akan mencabut penderitaan mereka atau
setidaknya akan memberikan formula tertentu untuk mengurangi kecemasan mereka.
Konselor yang berorientasi eksistensial, bagaimanapun, bekerja tidak
semata-mata untuk menghilangkan gejala-gejala atau mengurangi kecemasan.
Sebenarnya, konselor eksistensial tidak memandang kecemasan sebagai hal yang
tak diharapkan. Ia akan bekerja dengan cara tertentu sehingga untuk sementara
konseli bisa mengalami peningkatan taraf kecemasan. Pertanyaan-pertanyaan yang
bisa diajukan adalah: Bagaimana konseli mengatasi kecemasan? Apakah kecemasan
merupakan fungsi dari pertumbuhan ataukah fungsi kebergantungan pada tingkah
laku neurotik? Apakah konseli menunjukkan keberanian untuk membiarkan dirinya
menghadapi kecemasan atas hal-hal yang tidak dikenalnya? Kecemasan adalah bahan
bagi konseling yang produktif, baik konseling individual maupun konseling
kelompok. Jika konseli tidak mengalami kecemasan, maka motivasinya untuk
berubah akan rendah.Kecemasan dapat ditransformasikan ke dalam energi yang
dibutuhkan untuk bertahan menghadapi risiko bereksperimen dengan tingkah laku
baru. Implikasi-implikasi konseling bagi kecemasan. Kebanyakan orang mencari
bantuan profesional karena mereka mengalami kecemasan atau depresi banyak klien
yang memasuki kantor konselor disertai harapan bahwa konselor akan mencabut
penderitaan mereka atau setidaknya akan memberikan formula tertentu untuk
mengurangi kecemasan mereka. Konselor yang berorientasi eksistensial tidak
semata-mata untuk menghilangi gejala-gejala atau kecemasan. Konselor eksistensial
tidak memandang kecemasan sebagai hal yang tidak diharapkan. Kecemasan adalah
bahan bagi konseling yang produktif baik konseling individual maupun konseling
kelompok. Kecemasan dapat ditransformasikan kedalam energi yang dibutuhkan
untuk bertahan menghadapi resiko bereksperimen dengan tingkah laku baru.
4 - Penciptaan
Makna
Manusia itu
unik, dalam artian bahwa dia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan
menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Pada
hakikatnya manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam
suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah makhluk rasional. Kegagalan
dalam menciptakan hubungan yang bermakna dapat menimbulkan kondisi-kondisi
keterasingan dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni
mengungkapkan potensi – potensi manusiawinya sampai taraf tertentu.
Tema-tema dan
dalil-dalil utama eksistensial: penerapan-penerapan pada praktek terapi
Dalil 1 :
Kesadaran diri
Manusia
memiliki kesanggupan untuk menyadari diri yang menjadikan dirinya mampu
melampaui situasi sekarang dan membentuk basis bagi aktivitas-aktivitas
berpikir dan memilih yang khas manusia. Kesadaran diri membedakan manusia
dengan makhluk-makluk lain. Pada hakikatnya, semakin tinggi kesadaran diri
seseorang, maka ia semakin hidup sebagai pribadi. Meningkatkan kesadaran
berarti meningkatkan kesanggupan seseorang untuk mengalami hidup secara penuh
sebagai manusia. Peningkatan kesadaran diri yang mencakup kesadaran atas
alternatif-alternatif, motivasi-motivasi, factor-faktor yang membentuk pribadi,
dan atas tujuan – tujuan pribadi, adalah tujuan segenap konseling.
Dalil 2 :
Kebebasan dan tanggung jawab
Kebebasan
adalah kesanggupan untuk meletakkan perkembangan di tangan sendiri dan untuk
memilih di antara alternatif – alternatif. Pendekatan eksistensial meletakkan
kebebasan, determinasi diri, keinginan dan putusan pada pusat keberadaan
manusia. Tugas terapis adalah membantu kliennya dalam menemukan cara-cara klien
sama sekali menghindari penerimaan kebebasannya, dan mendorong klien itu untuk
belajar menanggung resiko atas keyakinannya terhadap akibat penggunaan
kebebasannya.
Dalil 3 :
Keterpusatan dari kebutuhan akan orang lain
Kita
masing-masing memiliki kebutuhan yang kuat untuk menemukan suatu diri, yakni
menemukan identitas pribadi kita. Kita membutuhkan hubungan dengan
keberadaan-keberadaan yang lain. Kita harus memberikan diri kita kepada orang
lain dan terlibat dengan mereka.
Keberanian untuk ada. Usaha menemukan
inti dan belajar bagaimana hidup dari dalam memerlukan keberanian. Kita
berjuang untuk menemukan, untuk menciptakan, dan untuk memelihara inti dari ada
kita.
Pengalaman kesendirian. Bahwa kita
memikul tanggung jawab atas pilihan-pilihan kita berikut hasil-hasilnya, bahwa komunikasi
total dari individu yang satu dengan individu yang lainnya tidak pernah bisa
dicapai, bahwa kita adalah individu-individu yang terpisah dari orang lain, dan
bahwa kita adalah unik.
Pengalaman keberhubungan. Bahwa kita
bergantung pada hubungan dengan orang lain untuk kemanusiaan kita, dan kita
memiliki kebutuhan untuk menjadi orang yang berarti dalam dunia orang lain,
yang mana kehadiran orang lain penting dalam dunia kita, dan kita
memperbolehkan orang lain memiliki arti dalam dunia kita, maka kita mengalami
keberhubungan yang bermakna.
Dalil 4 :
Pencarian makna
Terapi
eksistensial bisa menyediakan kerangka konseptual untuk membantu klien dalam
usahanya mencari makna hidup. Manusia pada dasarnya selalu dalam pencarian
makna dan identitas diri.
Masalah penyisihan nilai-nilai lama. Nilai – nilai
tradisional (dan nilai – nilai yang dialihkan kepada seseorang) tanpa disertai
penemuan nilai – nilai lain yang sesuai untuk menggantikannya.
Belajar untuk menemukan maknadalam hidup. Hidup tidak
memiliki makna dengan sendirinya, manusialah yang harus menciptakan dan
menemukan makna hidup itu. Tugas proses terapeutik adalah menghadapi masalah
ketidakbermaknaan dan membantu klien dalam membuat makna dari dunia yang kacau.
Pandangan eksistensial tentang psikopatologi. Adanya konsep psikopatologi yang menyatakan tentang dosa
eksistensial yang timbul dari perasaan tidak lengkap atau dari kesadaran
seseorang bahwa tindakan-tindakan dan pilihan-pilihannya tidak bisa menyatakan
potensi-potensinya secara penuh sebagai pribadi.
Dalil 5 :
Kecemasan sebagai syarat hidup
Kecemasan
adalah suatu karakteristik dasar manusia yang mana merupakan sesuatu yang
patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasional yang kuat untuk
pertumbuhan.
Kecemasan sebagai sumber pertumbuhan. Kita
mengalami kecemasan dengan meningkatnyakesadaran kita atas kebebasan dan atas
konsekuensi-konsekuensi dari penerimaan ataupun penolakan kebebasan kita itu.
Pelarian dari kecemasan. Suatu fungsi
dari penerimaan kita atas kesendirian dan, meskipun kita bisa menemukan
hubungan yang bermakna dengan orang lain, kita pada dasarnya tetap sendirian.
Implikasi-implikasi konseling bagi kecemasan. Membantu klien untuk menyadari bahwa belajar menoleransi keberdwiartian dan
ketidaktentuan serta belajar bagaimana hidup tanpa sandaran dapat merupakan
fase yang penting dalam perjalanan dari hidup yang bergantung kepada menjadi
pribadiyang lebih otonom.
Dalil 6 :
Kesadaran atas kematian dan non ada
Para
eksistensialis tidak memandang kematian secara negative, dan mengungkapkan
bahwa hidup memiliki makna karena memiliki keterbatasan waktu. Karena kita
bersifat lahiriah, bagaimanapun, kematian menjadi pendesak bagi kita agar
menganggap hidup dengan serius. Ketakuatan terhadap kamatian membayangi mereka yang
takut mengulurkan tangan dan benar – benar merangkul kehidupan.
Dalil 7 :
Perjuangan untuk aktualisasi diri
Setiap orang
memiliki dorongan bawaan untuk menjadi seorang pribadi, yakni mereka memiliki
kecenderungan kearah pengembangan keunikan dan ketunggalan, penemuan identitas
pribadi, dan perjuangan demi aktualisasi potensi – potensinya secara penuh.
Jika seseorang mampu untuk mengaktualisasikan potensi-potensinya sebagai
pribadi, maka ia akan mengalami kepuasan yang paling dalam yang bisa dicapai oleh
manusia, sebab demikianlah alam mengharapkan mereka berbuat.
1.
Munculnya gangguan
Model humanistik kepribadian,
psikopatologi, dan psikoterapi awalnya menarik sebagian besar konsep-konsep
dari filsafat eksistensial, menekankan kebebasan bawaan manusia untuk memilih,
bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan hidup sangat banyak pada saat ini.
Hidup sehat di sini dan sekarang menghadapkan kita dengan realitas eksistensial
menjadi, kebebasan, tanggung jawab, dan pilihan, serta merenungkan eksistensi
yang pada gilirannya memaksa kita untuk menghadapi kemungkinan pernah hadir
ketiadaan. Pencarian makna dalam kehidupan masing-masing individu adalah tujuan
utama dan aspirasi tertinggi. Pendekatan humanistik kontemporer psikoterapi
berasal dari tiga sekolah pemikiran yang muncul pada 1950-an, eksistensial,
Gestalt, dan klien berpusat terapi.
2.
Tujuan Terapi
-
Menyajikan kondisi-kondisi untuk
memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan.
-
Menghapus penghambat-penghambat
aktualisasi potensi pribadi. membantu klie
-
menemukan dan menggunakan
kebebasan memilih dan memperluas kesadaran diri.
-
Membantu klien agar bebas dan
bertanggung jawab atas arah kehidupan sendiri.
3.
Peran Terapis
Menurut Buhler dan Allen, para
ahli psikoterapi Humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal
berikut:
-
Mengakui pentingnya pendekatan dari
pribadi ke pribadi
-
Menyadari peran dan tanggung jawab
terapis
-
Mengakui sifat timbale balik dari
hubungan terapeutik.
-
Berorientasi pada pertumbuhan
-
Menekankan keharusan terapis
terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
-
Mengakui bahwa putusan-putusan dan
pilihan-pilihan akhir terletak di tangan klien.
-
Memandang terapis sebagai model,
bisa secara implicit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan
positif.
-
Mengakui kebebasan klien untuk
mengungkapkan pandagan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya
sendiri.
-
Bekerja kea rah mengurangi
kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.
Tekhnik Tekhnik Terapi Humansitik
Sepanjang proses terapeutik, kedudukan teknik adalah nomor dua dalam hal
menciptakan hubungan yang akan bisa membuat konselor bisa secara efektif
menantang dan memahami klien. Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling
eksistensial-humanistik, yaitu:
1.
Penerimaan
2.
Rasa hormat
4.
Memahami
5.
Menentramkan
6.
Memberi dorongan
7.
6.Pertanyaan terbatas
8.
Memantulkan pernyataan dan perasaan klien
9.
Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa
yang dirasakan klien
10. Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna
PERSON CENTERED
THEORY (Rogers)
Konsep dasar pandangan Rogers tentang kepribadian
Pendekatan
person-centered therapy menekankan
pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi dirinya dan
pemecahan masalah dirinya. Terapi ini berfokus pada bagaimana membantu dan
mengarahkan klien pada pengaktualisasian diri untuk dapat mengatasi
permasalahannya dan mencapai kebahagiaan. Konsep dasar dari terapi ini adalah
hal-hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self) dan
aktualisasi diri.
Menurut Rogers (1959), bayi mulai mengembangkan konsep diri yang samar saat sebagian pengalaman mereka telah dipersonalisasikan dan dibedakan dalam kesadaran pengalaman sebagai "aku" (I) atau "diriku" (me). Kemudian, bayi secara bertahap menjadi sadar akan identitasnya sendiri saat mereka belajar apa yang terasa baik dan terasa buruk, apa yang terasa menyenangkan dan tidak menyenangkan. Selanjutnya, mereka mulai untuk mengevaluasi pengalaman mereka sebagai pengalaman positif dan negatif, menggunakan kecenderungan aktualisasi sebagai kriteria.
Saat bayi telah membangun struktur diri yang mendasar, kecenderungan mereka untuk aktualisasi mulai berkembang. Aktualisasi diri merupakan bagian dari kecenderungan aktualisasi sehingga tidak sama dengan kecenderungan itu sendiri. Secara singkat, aktualisasi diri adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri sebagaimana yang dirasakan dalam kesadaran. Rogers mengajukan dua subsistem, yaitu konsep diri (self-concept) dan diri ideal (ideal-self).
Menurut Rogers (1959), bayi mulai mengembangkan konsep diri yang samar saat sebagian pengalaman mereka telah dipersonalisasikan dan dibedakan dalam kesadaran pengalaman sebagai "aku" (I) atau "diriku" (me). Kemudian, bayi secara bertahap menjadi sadar akan identitasnya sendiri saat mereka belajar apa yang terasa baik dan terasa buruk, apa yang terasa menyenangkan dan tidak menyenangkan. Selanjutnya, mereka mulai untuk mengevaluasi pengalaman mereka sebagai pengalaman positif dan negatif, menggunakan kecenderungan aktualisasi sebagai kriteria.
Saat bayi telah membangun struktur diri yang mendasar, kecenderungan mereka untuk aktualisasi mulai berkembang. Aktualisasi diri merupakan bagian dari kecenderungan aktualisasi sehingga tidak sama dengan kecenderungan itu sendiri. Secara singkat, aktualisasi diri adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri sebagaimana yang dirasakan dalam kesadaran. Rogers mengajukan dua subsistem, yaitu konsep diri (self-concept) dan diri ideal (ideal-self).
Konsep Diri
Konsep diri meliputi seluruh aspek dalam keberadaan dan pengalaman seseorang yang disadari oleh individu tersebut. Konsep diri tidak identik dengan diri organismik. Bagian-bagian diri organismik berada di luar kesadaran seseorang atau tidak dimiliki oleh orang tersebut.
Saat manusia sudah membentuk konsep dirinya, ia akan menemukan kesulitan dalam menerima perubahan dan pembelajaran yang penting. Pengalaman yang tidak konsisten dengan konsep diri mereka biasanya disangkal atau hanya diterima dengan bentuk yang telah didistorsi atau diubah.
Diri Ideal
Konsep diri meliputi seluruh aspek dalam keberadaan dan pengalaman seseorang yang disadari oleh individu tersebut. Konsep diri tidak identik dengan diri organismik. Bagian-bagian diri organismik berada di luar kesadaran seseorang atau tidak dimiliki oleh orang tersebut.
Saat manusia sudah membentuk konsep dirinya, ia akan menemukan kesulitan dalam menerima perubahan dan pembelajaran yang penting. Pengalaman yang tidak konsisten dengan konsep diri mereka biasanya disangkal atau hanya diterima dengan bentuk yang telah didistorsi atau diubah.
Diri Ideal
Diri ideal
didefinisikan sebagai pandangan seseorang atas diri sebagaimana yang
diharapkannya. Diri ideal meliputi semua atribut, biasanya yang positif, yang
ingin dimiliki oleh seseorang. Perbedaan yang besar antara diri ideal dengan
konsep diri mengindikasikan inkongruensi dan merupakan kepribadian yang tidak
sehat. Individu yang sehat secara psikologis akan mellihat sedikit perbedaan
antara konsep dirinya dengan apa yang mereka inginkan secara ideal.
Unsur-Unsur Person-Centered Therapy
1.
Munculnya Gangguan
Hambatan atas
pertumbuhan psikologis terjadi saat seseorang mengalami penghargaan
bersyarat, inkongruensi, sikap defensif, dan disorganisasi.
Penghargaan
bersyarat dapat berakibat pada kerentanan, kecemasan, dan ancaman serta
menghambat manusia dari merasakan penerimaan positif yang tidak bersyarat.
Inkongruensi berkembang saat diri orgasmik dan diri yang dirasakan tidak
selaras. Saat diri organismik dan diri yang dirasakan tidak kongruen, manusia
cenedrung menjadi defensif serta menggunakan distorsi dan penyangkalan sebagai
usaha untuk mengurangi inkongruensi. Manusia yang mengalami disorganisasi saat
distorsi dan penyangkalan tidak cukup untuk menahan inkongruensi. Orang-orang
yang cenderung tidak menyadari inkongruensi mereka, memungkinkan untuk merasa
lebih cemas, terancam, dan defensif.
2. Tujuan Terapi
Rogers (1980)
memberikan penjelasan sesuai dengan logika bahwa ketika seseorang merasakan
sendiri bahwa mereka dihargai dan diterima tanpa syarat, mereka menyadari bahwa
mungkin untuk pertama kalinya mereka dapat dicintai. Sehingga, tujuan dari person-centered
therapy adalah untuk membuat klien/pribadi seseorang dapat menghargai dan
menerima diri mereka sendiri dan untuk mempunyai penerimaan positif yang tidak
bersyarat terhadap diri mereka.
3. Peran Terapis
Dalam pandangan
Rogers, konselor lebih banyak berperan sebagai partner klien dalam memecahkan
masalahnya. Dalam hubungan konseling, konselor ini lebih banyak memberikan
kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan segala permasalahan, perasaan dan
persepsinya, dan konselor merefleksikan segala yang diungkapkan oleh klien.
Agar peran ini
dapat dipertahankan dan tujuan dapat dicapai, maka konselor perlu menciptakan
iklim atau kondisi yang mampu menumbuhkan hubungan konseling.
Selain peranan
diatas, peranan utama konselor adalah menyiapkan suasana agar potensi dan
kemampuan yang pada dasarnya ada pada diri klien itu berkembang secara optimal,
dengan cara menciptakan hubungan konseling yang hangat. Dalam suasana yang
demikian, konselor merupakan agen pembangunan yang mendorong terjadinya
perubahan pada diri klien tanpa konselor sendiri banyak masuk dan terlibat
langsung dalam proses perubahan tersebut.
TEKNIK-TEKNIK PERSON-CENTERED THERAPY
Secara garis besar, teknik-teknik
dalam person-centered therapy adalah:
1. Konselor menciptakan suasana komunikasi antar
pribadi yang merealisasikan segala kondisi
2. Konselor menjadi seorang pendengar yang sabar dan
peka serta dapat meyakinkan klien bahwa dia diterima dan dipahami
3. Konselor memungkinkan klien untuk mengungkapkan
seluruh perasaannya secara jujur, lebih memahami diri sendiri, dan
mengembangkan suatu tujuan perubahan dalam diri sendiri dan perilakunya.
Sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar