Afni Wulandari
3pa18
10514407
LOGO TERAPI (FRANKI)
Kata “logo” berasal dari bahasa
Yunani “logos” yang berarti makna atau meaning dan juga “rohani”. Adapun
kata “terapi” berasal dari bahasa Inggris therapy yang artinya
penggunaan teknik-teknik menyembuhkan dan mengurangi suatu penyakit. Jadi, kata
logoterapi artinya penggunaan teknik untuk menyembuhkan dan mengurangi
atau meringankan suatu penyakit melalui penemuan makna hidup. Istilah
tema utama logoterapi adalah karakteristik eksistensi manusia, dengan
makna hidup sebagai inti teori. Dibawah ini akan di jelaskan lebih detail.
Konsep
Dasar Pandangan Frankl tentang Perilaku / Kepribadian
Pandangan Frankl tentang kesehatan psikologis
menekankan pentingnya kemauan akan arti.
Tentu saja ini merupakan kerangka, di dalamnya segala sesuatu yang lain diatur.
Frankl berpendapat manusia harus dapat
menemukan makna hidupnya sendiri dan setelah menemukan lalu mencoba untuk
memenuhinya. Bagi Frankl setiap kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan itu
adalah suatu tugas yang harus dijalani. Mencari makna dalam hidup inilah prinsip
utama teori Frankl Logoterapi. Logoterapi
memiliki tiga konsep dasar, yakni
Kebebasan berkehendak (Freedom
of Will)
Dalam pandangan logoterapi, manusia adalah mahluk yang
istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan yang dimaksud dalam freedom of will seperti:
-
Kebebasan
yang bertanggungjawab.
- Kebebasan
untuk mengambil sikap (freedom to take a
stand) atas kondisi-
kondisi tersebut.
-
Kebebasan
untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam
hidupnya.
Kehendak Hidup Bermakna (The
Will to Meaning)
Konsep keinginan kepada
makna (the will to meaning) inilah menjadi motivasi utama kepribadian
manusia (Frankl, 1977). Dalam
psikoanalisa memandang manusia adalah pencari kesenangan. Pandangan psikologi individual
bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi bahwa kesenangan
merupakan efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat
bagi pemenuhan makna. Mengenal makna, menurut Frankl bersifat menarik dan
menawari bukannya mendorong. Karena sifatnya menarik maka individu termotivasi
untuk memenuhinya. Agar individu menjadi individu yang bermakna, maka melakukan
berbagai kegiatan yang syarat dengan makna.
Makna Hidup (The Meaning Of
Life)
Makna yaitu suatu hal yang didapat dari pengalaman
hidupnya baik dalam keadaan senang maupun dalam penderitaan. Makna hidup dianggap identik dengan
tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara satu dengan yang lainya dan
berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting secara umum bukan
makna hidup, melainkan makna khusus dari hidup pada suatu saat tertentu. Setiap
individu memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus. Dalam
kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa
diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik untuk
menyelesaikan tugasnya (Frankl, 2004).
Unsur-unsur
Terapi
Munculnya gangguan /
kecemasan
Saat individu tidak memiliki
keinginan terhadap sesuatu (apapun), karena keinginan akan mendorong setiap
manusia untuk melakukan berbagai kegiatan agar hidupnya di rasakan berarti dan
berharga. Menurut Frankl (2004)
terdapat dua tahapan pada sindroma ketidakbermaknaan, yaitu:
- Frustasi
eksistensial (exsistential
frustration) atau disebut juga kehampaan
eksistensial (exsistetial vacuum)
Menurut
Koesworo,1992, exsistential frustration
adalah fenomena umum yang berkaitan dengan keterhambatan atau kegagalan
individu dalam memenuhi keinginan akan makna.
-
Neurosis
noogenik (noogenic neuroses)
Yaitu
suatu manifestasi khusus dari frustasi eksistensial yang ditandai dengan
simptomatologi neurotik klinis tertentu yang tampak (Koesworo,1992). Frankl
menggunakan istilah ini untuk membedakan dengan keadaan neurosis somatogenik,
yaitu neurosis yang berakar pada kondisi fisiologis tertentu dan neurosis
psikogenik yaitu neurosis yang bersumber pada konflik-konflik psikologis.
Tujuan terapi
·
Memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara
universal
ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan, dan agama yang
dianutnya.
·
Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan,
terhambat,
dan diabaikan, bahkan terlupakan.
· Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari
penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara
sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.
Peran terapis
Terapis memberikan sugesti-sugesti
terhadap klien, bahwa setiap manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan
sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.
Teknik-teknik Terapi
Dalam logoterapi, klien diajarkan bahwa
setiap kehidupan dirinya mempunyai maksud, tujuan, dan makna yang harus
diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup tidak lagi kosong jika sudah menemukan
sebab dan sesuatu yang dapat mendedikasikan eksistensi kita. Victor
Frankl dikenal sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis yang detail.
Teknik-teknik yang digunakan antara lain:
-
Intensi paradoksal
Mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan
anti sipatori dan hiper-intensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap
sesuatu yang ditakuti.
Contohnya:
A. Seorang pemuda yang selalu gugup ketika bergaul.
B. Masalah tidur.
Menurut Frankl, kalau
menderita insomnia, seharusnya tidak mencoba
berbaring ditempat tidur,
memejamkan mata, mengosongkan pikiran dan
sebagainya. Seharusnya berusaha menjaganya selama mungkin. Setelah
itu baru merasakan adanya kekuatan yang
mendorong untuk melangkah ke
kasur.
-
De-refleksi.
Frankl percaya sebagian besar persoalan kejiwaan berawal dari
perhatian yang terfokus pada individu. Dengan mengalihkan perhatian dari individu
dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan itu akan hilang dengan
sendirinya. Misalnya, mengalami masalah seksual, cobalah memuaskan pasangan
tanpa memperdulikan kepuasan individu atau cobalah tidak memuaskan siapa saja,
tidak diri anda, tidak juga diri pasangan.
RATIONAL EMOTIVE THERAPY
Konsep
Dasar
Rational Emotive Therapy
adalah teori yang berusaha memahami manusia sebagaimana adanya. Manusia adalah
subjek yang sadar akan dirinya dan sadar akan objek-objek yang dihadapinya.
Manusia adalah makhluk berbuat dan berkembang dan merupakan individu dalam satu
kesatuan yang berarti manusia bebas, berpikir, bernafas, dan berkehendak. Yang
dimaksud dengan konseling Rational
Emotive Therapy adalah konseling yang menekankan
interaksi berfikir dan akal sehat (rational thingking),
perasaan (emoting), dan berperilaku (acting). Teori ini
menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam terhadap cara berpikir dapat
menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku.
Pandangan
pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep
kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu,
yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence
(C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. Makalah
ini memberikan rincian penting tentang bagaimana A, B, dan C, serta kognisi,
emosi, dan perilaku semua penting mempengaruhi satu sama lain dan bagaimana
mereka menjadi digabungkan menjadi disfungsional, Asumsi inti menuntut Dasar
filsafat yang mengarah pada gangguan neurotik. Untuk mengubah dan terus berubah
asumsi dasar disfungsional, Rational
Emotive Therapy menggunakan sejumlah teknik intelektual, afektif, dan
tindakan yang sering diterapkan secara
kuat, terus-menerus, aktif-direktif. Hal ini lebih kognitif daripada kebanyakan
kognitif-perilaku terapi lain yang mencoba untuk membantu banyak (tidak semua)
klien untuk membuat perubahan filosofis elegan atau mendalam.
1.
Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar
individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau
sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi
masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
2.
Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi
diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam,
yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan
yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional
merupakan cara berpikir atau sistem keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana
itu menjadi produktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan
atau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan
kerana itu tidak produktif.
3.
Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional
sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan
emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi
emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa
variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
4.
D
(disputing intervention) adalah yang meragukan atau membantah. Pada
isensinya merupakan aplikasi dari metode ilimiah untuk menolong klien membantah
keyakinan irasional. Ellis dan Bernard melukiskan tiga komponen dari proses
membantah ini:
Pertama: klien belajar cara mendeteksi
keyakinan irasional mereka, terutama kemutlakan seharusnya dan harus, sifat
berlebihan, dan pelecehan pada diri sendiri.Kedua: klien memperdebatkan keyakinan yang
disfungsional itu dengan belajar cara mempertanyakan semua itu secara logis dan
empiris dan dengan sekuat tenaga mempertanyakan kepada diri sendiri serta berbuat
untuk tidak mempercayainya.
Ketiga: klien belajar untuk mendiskriminasikan
keyakinan yang irasional dan rasional.
Teknik Terapi Kelompok
a. Munculnya gangguan
Terapi kelompok digunakan ketika klien tidak berhasil dalam penanganan secara terapi individu.
b. Tujuan terapi
- Meningkatkan identitas diri
- Menyalurkan emosi dna membagi perasaan antar sesama didalam kelompok terapis
- Meningkatkan keterampilan hubungan sosial
- Meningkatkan kemampuan hidup mandiri
c. Peran terapis
Terapis harus memainkan peranan yang aktif dalam mendorong kelompok untuk mencapai tujuan atau harapannya.
UCS UCR
CS
CR
Token economy merupakan salah satu contoh dari perkuatan yanf ekstrinsik, yang menjadikan orang-orang melakukan sesuatu untuk meraih “pemikat di ujung tongkat”.Tujuan prosedur ini adalah mengubah motivasi yang ekstrinsik menjadi motivasi yang intrinsic. Diharapkan bahwa perolehan tingkah laku yang diinginkan akhirnya dengan sendirinya akan menjadi cukup mengganjar untuk memelihara tingkah laku yang baru.
5.
E
(effect) adalah falsafah efektif, yang memiliki segi praktis. Falsafah
rasional yang baru dan efektif terdiri dari menggantikan yang tidak pada
tempatnya dengan yang cocok. Apabila itu berhasil maka akan tercipta F atau new
feeling .
6. F (new feeling) adalah perangkat perasaan yang baru.
Kita tidak lagi merasakan cemas yang sungguh-sungguh, melainkan kita mengalami
segala sesuatu sesuai dengan situasi yang ada.
Teknik-Teknik dalam Proses Konseling Rasional Emotif
1. Teknik Konseling
Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang
bersifat afektif, behavioristik, dan kognitif yang disesuaikan dengan kondisi
klien. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut.
1. Teknik-Teknik
Emotif (Afektif)
a.
Assertive adaptive
Teknik
yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara
terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan.
Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
Konselor : “Kamu pasti bisa hidup tanpa dia, karena
di dunia ini masih banyak orang yang
sayang sama kamu”
Klien :
“Iya Bu, tetapi bagaimana caranya?”
Konselor :”Kamu bisa melakukan aktifitas yang
kamu sukai sehingga pikiran kamu bisa tenang dan kamu bisa semangat lagi”
Klien :”Iya Bu, saya akan berusaha untuk menghadapi
ini semua dengan kumpul sama teman-teman, main futsal, atau ngeband dengan
teman-teman saya”
b.
Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan
(perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian
rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui
peran tertentu.
Konselor :”Disini nanti kita akan bermain peran,
dimana kamu dapat mengungkapkan kekecewaan kamu dan kemauan kamu demi
kebahagiaan kamu nantinya”
Klien :”Terus apa yang harus saya lakukan
Bu?”
Konselor :”Kamu bisa menganggap saya sebagai
orang yang ingin kamu marahi, dan katakan semua yang ingin kamu ungkapkan
selama ini”
Klien :”Baik Bu, saya mengerti”
c. Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku
tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri
yang negatif.
Konselor :”Coba kamu lihat Bu Arum, guru matematika
yang selalu sabar dalam mengajarkan pelajaran kepada murid-muridnya, ia selalu
tersenyum dan semangat dalam menghadapi murid-muridnya yang selalu seenaknya
sendiri”
Klien :”Apakah
saya bisa sabar seperti beliau?”
Konselor :“Kamu pasti bisa untuk sabar dalam
menghadapi kenyataan seperti halnya Bu Arum”
2. Teknik-teknik
Behavioristik
a.
Reinforcement
Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional
dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman
(punishment). eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan
yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. Dengan memberikan reward ataupun punishment,
maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
b.
Social modeling
Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien.
Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang
diharapkan dengan cara imitasi (meniru), mengobservasi, dan menyesuaikan
dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan
masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
3.
Teknik-teknik Kognitif
Terapis kognitif memperlakukan
klien mereka dengan terapi
yang disebut restrukturisasi kognitif. Hal ini juga disebut reframing kognitif. Klien yang memiliki pikiran irasional diajarkan untuk melihat situasi mereka dari perspektif yang berbeda. Albert Ellis memulai terapi disebut
rasional-emotif terapi.
Dia percaya bahwa emosi berada di balik pikiran irasional yang manusia miliki.
Terapis kognitif akan
berusaha untuk mengubah cara klien mereka pikirkan atau rasakan jika pikiran dan perasaan membawa mereka sRational Emotive Therapys
dan cemas, memimpin mereka untuk membuat keputusan yang buruk, atau melompat ke kesimpulan
yang salah.
a.
Home work
assigments,
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih,
membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut
pola tingkah laku yang diharapkan.
Dengan tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi
atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak
logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah
aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu
berdasarkan tugas yang diberikan
Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh
klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor
Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap
tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan
diri, pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.
Konselor :”saya akan memberikan kertas ini sama kamu dan
kamu isi kolom yang kosong dengan memberikan kata “ya” atau “tidak”, lalu kamu
tunjukkan kertas ini pada saat kamu bertemu dengan saya, tujuannya yaitu agar
kamu dapat melatih sikap kamu menjadi lebih baik”
Klien :“Iya Bu, saya mengerti”
b.
Latihan assertive
Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah
laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau
meniru model-model sosial.
Maksud utama teknik latihan asertif adalah :
·
mendorong kemampuan klien
mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya;
·
membangkitkan kemampuan klien
dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi
orang lain;
·
mendorong klien untuk meningkatkan
kepercayaan dan kemampuan diri; dan meningkatkan kemampuan untuk memilih
tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri.
Konselor :”Ayo,
kamu pasti bisa mengungkapkan semua perasaan kamu, anggaplah saya sebagai orang
yang ingin kamu marahi dan katakan semua kekecewaan kamu dan keinginan kamu”
Klien :”Saya kurang yakin untuk melakukan hal itu.”
Konselor :”Setelah kamu mengungkapkan
semuanya maka paling tidak kamu bisa merasa tenang”
Klien :”Iya Bu, akan saya coba”
TERAPI KELOMPOK
Terapi
Kelompok (Group Therapy)
1.
Konsep
Terapi Kelompok
Kelompok adalah kumpulan individu
yang mempunyai hubungan antara satu dengan yang lainnya, saling ketergantungan
serta mempunyai norma yang sama. Kelompok terapeutik memberi kesempatan untuk
saling bertukar (sharing) tujuan,
misalnya membantu individu yang berperilaku destruktif dalam berhubungan dengan
orang lain, mengidentifikasi dan memberikan alternatif untuk membantu merubah
perilaku destruktif menjadi konstruktif.
Menurut Yosep (2007), terapi
kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok pasien
bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan
oleh seorang therapis atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih. Terapi
kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk
memberikan stimulasi bagi pasien dengan gangguan interpersonal.
Terapi kelompok mirip dengan
masalah-masalah yang ditangani oleh terapi individu seperti konseling. Yang
membedakan dengan terapi individu adalah pendekatannya. Terapi kelompok tidak
menggunakan pendekatan yang bersifat perseorangan, melainkan menggunakan
kelompok sebagai media penyembuhan. Individu-individu yang mengalami masalah
sejenis disatukan dalam kelompok penyembuhan dan kemudian dilakukan terapi
dengan dibimbing atau didampingi oleh terapis. Oleh karena itu perlu
diperhatikan mengenai komponen kelompok dalam terapi kelompok. Dalam Sari
(2015) menyebutkan komponen tersebut antara lain:
a.
Struktur kelompok
Stuktur kelompok menjelaskan
batasan, komunikasi, proses pengambilan keputusan dan hubungan otoritas dalam
kelompok. Struktur kelompok menjaga stabilitas dan membantu pengaturan pola
perilaku dan interaksi. Struktur dalam elompok diatur dengan adanya pimpinan
dan anggota, arah komunikasi dipandu oleh pemimpin, sedangkan keputusan diambil
secara bersama.
b.
Besar kelompok
Menurut
Wartono (dalam Yosep, 2007), jumlah ideal anggota kelompok adalah tujuh sampai
delapan orang. Jumlah minimum angota kelompok berkisar empat dan jumlah
maksimun adalah sepuluh orang. Jika anggota kelompok terlalu besar akibatnya
tidka semua anggota kelompok memndapatkan kesempatan mengungkapkan perasaan,
mengemukakan pendapat dan pengalamannya. Jika terlalu kecil makan tidak cukup
variasi informasi dan intreaksi yang terjadi.
c.
Lamanya sesi
Waktu
optimal untuk satu sesi adalah 20-40 menit untuk fungsi terapi reandah, dan
60-120 menit untuk fungsi kelompok yang tinggi. Frekuensi pertemuan dapat
disesuaian dengan tujuan kelompok, dapat satu kali atau dua kali per minggu
atau dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan.
d.
Komunikasi
Salah
satu tugas pemimpin kelompok yang terpenting adalah mengobservasi dan
mengalisis pola komunikasi dalam kelompok. Pemimpin menggunakan umpan balik
untuk memberikan kesadaran pada anggota kelompok terhadap dinamika yang
trejadi. Pemimpin kelompok dapat mengkaji hambatan dalam kelompok, konflik
interpersonal, tingkat kompetis, dan seberapa jauh anggota kelompok mengerti
serta melaksanakan kegiatan.
e.
Peran kelompok
Pemimpin
(leader) harus memiliki kemammpuan
dalam proses yang terjadi pada kelompok, seperti adanya interupsi, peningkatan
intonasi suara, sikap menghakimi antara anggota kelompok selama interaksi
berlangsung. Dengan kata lian, pemimpin harus peka terhadap adanya konflik yang
mungkin terjadi di dalam kelompok.
f.
Kekuatan kelompok
Kekeuatan
kelompok adalah kemampuan anggota dalam memmpengaruhi jalannya kegiatan
kelompok. Untuk menetapkan kekuatan kelompok yang bervariasi diperlukan kajian
siapa yang paling banyak mendengar siapa yang membuat keputusan dalam kelompok.
g.
Norma
Norma
adalah standar perilaku dalam kelompok. Pengharapan terhadap perilaku kelompok
pada masa yang akan datang berdasarkan pada pengalaman masa lalu dan saat ini.
Pemahaman tentang norma berguna untuk mngetahui pengaruhnya terhadap komunikasi
dan interaksi dalam kelompok.
h.
Kekohesifan
Kekohesifan
adalah kekuatan antar anggota kelompok bekerjasama dalam mencapai tujuan. Hal
ini mempengaruhi naggota kelompok untuk tertarik dan puas terhadap kelompoknya.
Terapis perlu melakuakn upaya agar kekohesifan kelompok dapat terwujud, selain
mengelompokan anggota yang memiliki masalah yang sama. Terapis juga menciptakan
kekohesifan dengan cara mendorong kelompok untuk berbicara satu sama lain.
Kekohesifan dapat diukur melalui seberapa sering antar anggota memberi pujian
dan mengungkapkan kekaguman satu sama lain.
Teknik Terapi Kelompok
Ada beberapa bentuk khusus terapi kelompok,
antara lain :
a.
Psikodrama
Psikodrama merupakan suatu bentuk
terapi kelompok, yang dikembangkan oleh J.L. Moreno pada tahun 1946, dimana
pasien didorong untuk memainkan suatu peran emosional di depan para penonton
tanpa dia sendiri dilatih sebelumnya. Tujuan dari psikodrama ini adalah
membantu seorang pasien atau kelompok pasien untuk mengatasi masalah-masalah
pribadi dengan menggunakan permainan drama, peran, atau terapi tindakan. Lewat
cara-cara ini pasien dibantu untuk mengungkapkan perasaan-perasaan tentang
konflik, kemarahan, agresi, perasaan bersalah, dan kesedihan. Sama dengan
Freud, Moreno melihat emosi-emosi yang terpendam dapat dibongkar
(kompleks-kompleks emosional dihilangkan dengan membawanya ke kesadaran, dan
membuat energi emosional diungkapkan/katarsis).
Metode psikodrama yang sangat
Penting. Seperti yang dikembangkan dan dipraktekkan oleh Moreno, psikodrama
menggunakan tempat yang menyerupai panggung. Hal ini bertujuan supaya pasien
memainkan peran di alam khayal, dengan demikian ia merasa bebas mengungkapkan
sikap-sikap yang terpendam dan motivasi-motivasi yang kuat. Ketika peran
dimainkan, implikasi-implikasi realistic dan tingkah lakunya yang dramatis
menjadi jelas. Keterampilan terampis dalam mengenal dan menafsirkan dinamika yang
diungkapkan memudahkan proses terapi. Ada tiga tahap yang penting dalam
psikodrama:
1) Tahap
pelaksanaan, dimana subjek memerankan khayalan-khayalannya.
2) Tahap
penggantian, dimana orang-orang yang sebenarnya menggantikan orang-orang yang
dikhayalkan subjek.
3) Tahap
penjernihan, dimana diadakan pengalihan dari kontak individu-individu pengganti
ke kontak dengan individu-individu di mana subjek memiliki kesempatan
menyesuaikan diri dengan mereka dalam kehidupan yang nyata.
Sebaliknya,
Whittaker memberikan suatu gambaran singkat tentang bagaimana sebaiknya
psikodrama itu dilaksanakan. Dia mengemukakan bahwa psikodrama menggunakan 4
instrument utama, yaitu:
1) Panggung,
yang merupakan ruang kehidupan psikologis dan fisik bagi subjek atau pasien.
2) Sutradara
atau pekerja.
3) Staf
dari ego-ego penolong (auxiliary ego)
atau penolong-penolong teraupetik.
4) Para
penonton.
Ego-ego
penolong maupun para penonton terdiri dari anggota-anggota kelompok lain.
Strateginya adalah memberi kemungkinan kepada subjek untuk memproyeksikan
dirinya kedalam dunianya sendiri dan membangkitkan respon-respon dari
kawan-kawan anggota kelompoknya sendiri. Selanjutnya, Whittaker mengemukakan 4
teknik yang bisa digunakan, yaitu:
1) Presentasi
diri. Pasien mempresentasikan dirinya sendiri atau seorang figur yang penting
dalam kehidupannya.
2) Memimpin
percakapan sendiri. Pasien melangkah keluar dari drama dan berbicara pada
dirinya sendiri dan kepada kelompoknya.
3) Teknik
ganda. Seorangg ego penolong berperan bersama dengan pasien dan melakukan
segala sesuatu yang dilakukan pasien pada waktu yang sama.
4) Teknik
cermin. Seorang ego penolong berperan sejelas mungkin menggantikan pasien. Dari
para penonton, pasien memperhatikan bagaimana dia melihat dirinya sendiri
sebagaimana orang-orang lain melihatnya.
Sutradara atau pekerja berfungi
baik sebagai produser maupun sebagai terapis. Sebagai produser, ia memilih dan
mengatur adegan-adegan yang juga memimpin tindakan (perbuatan) psikodramatis.
Adegan-adegan dipilih berdasarkan situasi-situasi yang mengandung muatan emosional
bagi pasien atau berdasarkan situasi-situasi dimana pasien bertingkahlaku tidak
tepat atau tidak efektif dalam situasi-situasi seperti itu. Sebagai terapi,
pekerja (sutradara) memberikan dukungan atau klarifikasi kepada para actor, dan
kadang-kadang memberikan penafsiran (sering dengan bantuan para anggota kelompok
lain) tentang adegan permainan itu.
Belakangan ini psikodrama dilakukan
oleh orang-orang yang mempraktekkan bermacam-macam teori psikoterapi.
Khususnya, para terapis Gestalt menggunakan psikodrama secara luas. Psikodrama
juga digunakan dalam terapi perkawinan, dalam terapi anak-anak,
penyalahgunana-penyalahgunaan obat bius dan alcohol, orang-orang yang mengalami
masalah-masalah emosional, di lingkungan penjara, untuk melatih para psikiater
dirumah sakit, untuk melatih orang-orang yang cacat, di perusahaan dan industri,
dan dalam pendidikan serta dalam mengambil keputusan.
Kegunaan psikodrama adalah dengan
mendramatisir konflik-konflik batinnya, pasien dapat merasa sedikit lega dan
dapat mengembangkan pemahaman (insight)
baru yang memberinya kesanggupan untuk mengubah perannya dalam kehidupan yang
nyata.
b.
Role
playing (bermain peran)
Memainkan
peran adalah suatu variasi dari psikodrama yang tidak menggunakan alat-alat
sandiwara (drama). Taknik ini banyak digunakan untuk mendorong pasien berbicara
dan mengembangkan persepsi-persepsi baru dalam berbagai situasi kelompok,
misalnya diruang kelas, program-program hubungan manusia dalam bidang usaha dan
industri, dan pertemuan-pertemuan latihan (training)
c.
Encounter
groups
Encounter groups
adalah bentuk-bentuk khusus dari terapi kelompok yang muncul dari gerakan
humanistik pada tahun 1960-an. Encounter
groups bertujuan untuk membantu mengembangkan kesadaran diri dengan
berfokus pada bagaimana para anggota kelompok berhubungan satu sama lainalam
suatu situasi diaman di dorong untuk mengungkapkan perasaan secara terus
terang. Encounter groups tidak
berlaku bagi orang yang mengalami masalah-masalah psikologis yang berat, tetapi
hanya ditujukan kepada orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik, berusaha
memajukan pertumbuhan pribadi, meningkatkan kesadaran mengenai kebutuhan-kebutuhan
dan perasaan-perasaan mereka sendiri serta cara-cara mereka berhubungan dengan
orang lain.
Encounter groups
berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini melalui pertemuan-pertemuan yang
intensif atau konfrontasi-konfrontasi langsung dengan orang-orang baru.
Beberapa kelompok dibentuk sebagai kelompok-kelompok marathon yang mungkin
berlangsung terus-menerus selama 12 jam atau lebih. Karena bertolak dari
pendekatan humanistik, encounter groups,
menekankan interaksi-interaksi yang terjadi ditempat ini dan kini.
Fokus
dari encounter groups adalah
mengungkapkan perasaan-perasaan yang asli dan bukan menafsirkan atau
membicarakan masa lampau. Apabila seorang anggota kelompok dipersepsikan oleh
orang lain bersembunyi di belakang kedok atau topeng sosial, maka orang lain
berusaha sedemikian rupa supaya orang tersebut membuka kedok itu, dan dengan
demikian mendorong orang itu untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang
sebenarnya.
Teknik
konfrontasi ini dapat merusak bila para anggota kelompok memaksa mengungkapkan
dengan terlalu cepat perasaan-perasaan pribadi orang itu yang belum mampu
ditanganinya atau bila orang itu merasa diserang atau dikambinghitamkan oleh
orang lain dalam kelompok. Para pemimpin kelompok yang bertanggungjawab tetap
berusaha mengendalikan kelompok itu untuk mencegah penyalahgunaan tersebut dan
mempertahankan kelompok itu bergerak kearah yang memudahkan pertumbuhan pribadi
dan kesadaran diri.
Unsur-unsur terapi:
a. Munculnya gangguan
Terapi kelompok digunakan ketika klien tidak berhasil dalam penanganan secara terapi individu.
b. Tujuan terapi
- Meningkatkan identitas diri
- Menyalurkan emosi dna membagi perasaan antar sesama didalam kelompok terapis
- Meningkatkan keterampilan hubungan sosial
- Meningkatkan kemampuan hidup mandiri
c. Peran terapis
Terapis harus memainkan peranan yang aktif dalam mendorong kelompok untuk mencapai tujuan atau harapannya.
TERAPI PERILAKU
KONSEP-KONSEP UTAMA
PANDANGAN TENTANG SIFAT MANUSIA
Behaviorisme
adalah suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia. Dalil dasarnya
adalah bahwa tingkah laku itu tertib dan bahwa eksperimen yang dikendalikan
dengan cermat akan menyingkapkan hokum-hukum yang mengendalikan tingkah laku.
Setiap
orang dipandang memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negative yang
sama. Manusia pada dibentuk dan ditentukan oleh lingkunga social budayanya.
Segenap tingkah laku manusia itu dipelajari. Meskipun berkeyakinan bahwa
segenap tingkah laku pada dasarnya merupakan hasil dari kekuatan-kekuatan
lingkungan dan factor genetic, para behavioris memasukkan pembuatan putusan
sebagai salah satu bentuk tingkah laku.
Pandangan
“behaviorisme radikal” tidak memberi tempat kepada asumsi yang menyebutkan
bahwa tingkah laku manusia dipengaruhi oleh pilihan dan kebebasan. Filsafat
behavioristik radikal menolak konsep tentang individu sebagai agen bebas yang
membentuk nasibnya sendiri. Situasi-situasi dalam dunia objektif masa lampau
dan hari ini menentukan tingkah laku. Lingkungan adalah pembentuk utama keberadaan
manusia.
Marquis
(1974) menyatakan bahwa terapi tingkah laku itu mirip keahlian teknik dalam
arti ia menerapkan informasi-informasi ilmiah guna menemukan
pemecahan-pemecahan teknis atas masalah-masalah manusia. Jadi, behaviorisme
berfokus pada bagaimana orang-orang belajar dan kondisi-kondisi apa saja yang
menentukan tingkah laku manusia.
Ciri-ciri unik terapi tingkah laku
Terapi
tingkah laku, berbeda dengan sebagian besar pendekatan terapi lainnya, ditandai
oleh: (a) pemusatan perhatian kepada tingkah laku yang tampak dan spesifik, (b)
kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatmen, (c) perumusan prosedur
treatmen yang spesifik yang sesuai dengan masalah, dan (d) penaksiran objektif
atas hasil-hasil terapi.
Terapi
tingkah laku tidak berlandaskan sekumpulan konsep yang sistematik, juga tidak
berakar pada suatu teori yang dikembangkan dengan baik. Sekalipun memiliki
banyak teknik, terapi tingkah laku hanya memiliki sedikit konsep. Terapi ini
merupakan suatu pendekatan induktif yang berlandaskan eksperimen-eksperimen dan
menerapkan metodeeksperimental pada proses terapeutik.
Pada
dasarnya, terapi tingkah laku diarahkan pada
tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku
yang maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang
diinginkan. Pernyataan yang tepat
tentang tujuan-tujuan treatment dispesifikasi, sedangkan pernyataan yang
bersifat umum tentang tujuan ditolak. Klien diminta untuk menyatakan dengan
cara-cara yang kongkret jenis-jenis tingkah laku masalah yang dia ingin
mengubahnya. Setelah mengembangkan pernyataan pernyataan yang tepat tentang
tujuan-tujuan treatment, terapis harus memilih prosedur-prosedur
PENGKONDISIAN KLASIK VS
PENGKONDISIAN OPERAN
Dua
aliran utama membentuk esensi metode-metode dan teknik-teknik pendekatan terapi
yang berlandaskan teori belajar, pengondisian klasik dan pengondisian operan.
Pengondisian klasik, atau disebut pengondisian responden, berasal dari karya
Pavlov. Pada dasarnya pengondisian klasik itu melibatkan stimulus tak berkondisi
(UCS) yang secara otomatis membangkitkan respons berkondisi (CR), yang sama
dengan respons tak berkondisi (UCR) apabila diasosiasikan dengan stimulus tak
berkondisi. Jika UCS dipasangkan dengan suatu stimulus berkondisi (CS), lambat
lau CS mengarahkan kemunculan CR. Dalam contoh yang diperlihatkan pada Gambar 7
. 1 . , UCS (makanan kucing) membangkitkan UCR, pengeluaran air liur kucing.
Pembukaan kaleng makanan dengan pembuka listrik menjadi CS karena dipasangkan
dengan makanan dan membangkitkan CR, pengeluaran air liur kucing.
(makanan kucing)
(pengeluaran air liur kucing)
(menjalankan pembuka
(pengeluaran air liur
kucing)
kaleng listrik)
Gambar 7 . 1 Rancangan
pengondisian klasik
Pengondisian
operan, satu aliran utama lainnya dari pendekatan terapi yang berlandaskan
teori belajar, melibatkan pemberian ganjaran kepada individu atas pemunculan
tingkah lakunya (yang diharapkan) pada saat tingkah laku itu muncul.
Pengondisian operan ini dikenal juga dengan sebutan pengondisian instrumental
karena memperlihatkan bahwa tingkah laku instrumental bias dimunculkan oleh
organism yang aktif sebelum perkuatan diberikan untuk tingkah laku tersebut.
Skinner, yang dianggap sebagai pencetus gagasan pengondisian operan, telah
mengembangkan prinsip-prinsip perkuatan yang digunakan pada upaya memperoleh
pola-pola tingkah laku tertentu yang dipelajari. Dalam pengondisian operan,
pemberian perkuatan positif bias memperkuat tingkah laku. Tingkah laku berkondisi
muncul di lingkungan dan instrumental bagi perolehan ganjaran.
Banyak
teknik dan prosedur modifikasi tingkah laku yang berasal dari model
pengondisian operan. Contoh-contoh prosedur yang spesifik yang berasal dari
pengondisian operan adalah perkiatan positif, penghapusan, hukuman,
pencontohan, dan penggunaan token economy. Teknik-teknik terapeutik tersebut akan
diungkap lebih lanjut pada bagian lain dari bab ini.
TEKNIK-TEKNIK
UTAMA TERAPI TINGKAH LAKU
Desensitiasi
sistematik
Desensitiasi
sistematik adalah salah satu teknik yang paling luas digunakan dalam terapi
tingkah laku. Desensitiasi sistematik digunakan untuk menghapus tingkah laku
yang diperkuat secara negatif, dan ia menyertakan pemunculan tingkah laku atau
respons yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu.
Desensitiasi diarahkan ada mengejar klien untuk menampilkan suatu respons yang
tidak konsisten dengan kecemasan.
Wolpe
(1958, 1969), pengembang teknik desensitiasi, mengajukan argumen bahwa segenap
tingkah laku neurotik adalah ungkapan dari kecemasan dan bahwa respons
kecemasan bisa dihapus oleh penemuan respons-respons yang secara inheren
berlawanan dengan respons tersebut. Dengan pengkondisian klasik, kekuatan
stimulus penghasil kecemasan bisa dilemahkan, dan gejala kecemasan bisa
dikendalikan dan dihapus melalui penggantian stimulus.
Desensitiasi
sistematik juga melibatkan teknik-teknik relaksasi. Klien dilatih untuk santai
dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman-pengalaman pembangkit
kecemasan yang dibayangkan atau divisualisasi. Situasi-situasi dihadirkan dalam
suatu rangkaian dari yang sangat tidak mengancam kepada yang mengancam.
Tingkatan stimulus-stimulus penghasil kecemasan dipasangkan secara
berulang-ulang dengan stimulus-stimulus penghasil keadaan santai sampai kaitan
antara stimulus-stimulus penghasil kecemasan dan respons kecemasan itu
terhapus. Dalam teknik ini, Wolpe telah mengembangkan suatu respons yakni
relaksasi, yang secara fisiologis bertantangan dengan kecemasan yang secara
sistematis diasosiasikan dengan aspek-aspek dari situasi yang mengancam. Prosedur
model pengkondisian balik ini adalah sebagai berikut :
1. Desensitiasi
sistematik dimulai dengan suatu analisis tingkah laku atas stimulus-stimulus
yang bisa membangkitkan kecemasan dalam suatu wilayah tertentu seperti
penolakan, rasa iri, ketidaksetujuan, atau suatu fobia. Disediakan waktu untuk
menyusun suatu tingkatan kecemasan-kecemasan klien dalam waktu tertentu.
Terapis menyusun suatu daftar bertingkat mengenai situasi-situasi yang
kemunculannya meningkatkan taraf kecemasan atau penghindaran. Tingkat dirancang
dalam urutan dari situasi yang paling buruk yang bisa dibayangkan oleh klien ke
situasi yang membangkitkan kecemasan yang tarafnya lebih rendah.
2. Selama
pertemuan-pertemuan terapeutik pertama klien diberi latihan relaksasi yang
terdiri atas kontraksi, dan lambat laun pengenduran otot-otot yang berbeda
sampai tercapai suatu keadaan santai penuh. Sebelum latihan relaksasi dimulai,
klien diberi tahu tentang cara relaksasi yang digunakan dalam desensitiasi,
cara menggunakan relaksasi itu dalam kehidupan sehari-hari, dan cara
mengendurkan bagian-bagian tubuh tertentu. Latihan relaksasi berlandaskan
teknik yang digariskan oleh Jacobsen (1938) dan uraikan secara rinci oleh Wolpe
(1969). Pemikiran dan pembayangan
situasi-situasi yang membuat santai seperti duduk dipinggir danau atau berjalan
jalan di taman yang indah, sering digunakan. Hal yang penting adalah bahwa
klien mencapai keadaan tenang dan damai. Klien diminta untuk mempraktekan
relaksasi diluar pertemuan terapeutik, sekitar 30 menit lamanya setiap hari.
Apabila klien telah bisa belajar untuk santai dengan cepat, maka prosedur
desensitisasi bisa dimulai.
3. Proses
desensitisasi melibatkan keadaan dimana klien sepenuhnya santai dengan mata
tertutup. Terapis menceritakan serangkaian situasi dan meminta klien untuk
membayangkan dirinya berada dalam setiap situasi yang diceritakan oleh terapis
itu. situasi yang netral diungkapkan, dan klien diminta untuk membayangkan
dirinya berada didalamnya. Jika klien mampu tetap santai maka dia diminta untuk
membayangkan suatu situasi yang membangkitkan kecemasan yang tarafnya paling
rendah. Terapis bergerak mengungkapkan situasi-situasi secara bertingkat sampai
klien menunjukkan bahwa dia mengalami kecemasan, dan pada saat itulah
pengungkapan situasi berakhir. Kemudian relaksasi dimulai lagi dan klien
kembali membayangkan dirinya berada dalam situasi-situasi yang diungkapkan oleh
terapis. Treatment dianggap selesai apabila klien mampu untuk tetap
santai ketika membayangkan situasi yang sebelumnya paling menggelisahkan dan
menghasilkan kecemasan.
Desensitisasi
sistematik adlah teknik yang cocok untuk menangani fobia-fobia, tetapi keliru
apabila menganggap teknik ini hanya bisa diterapkan pada penanganan
ketakutan-ketakutan. Desensitisasi sistematik bisa diterapkan secara efektif
oada berbagai situasi penghasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal,
ketakutan menghadapi ujian, ketakutan-ketakutan yang digeneralisasi,
kecemasan-kecemasan neurotik, serta impotensi dan frigiditas seksual.
Wolpe
(1969) mencatat tiga penyebab kegagalan dalam pelaksanaan desensitisasi
sistematik :
1. Kesulitan-kesulitan
dalam relaksasi, yang bisa jadi menunjuk pada kesulitan-kesulitan dalam
komunikasi antara terapis dan klien atau kepada keterhambatan yang ekstrem yang
dialami oleh klien.
2. Tingkatan-tingkatan
yang menyesatkan atau tidak relevan, yang ada kemungkinan melibatkan penanganan
tingkatan yang keliru.
3. Ketidakmadaian
dalam membayangkan.
Bagaimana
penerapan desensitisasi pada terapi kelompok? Shaffer dan Galinsky (1974),
dalam pembahasannya tentang terapi tingkah laku kelompok, menunjukan bahwa
belum ada keterangan yang muncul tentang model kelompok. Pendekatan-pendekatan
terapi tingkah laku kelompok secara khas memperkenalkan prosedur-prosedur
terapi tingkah laku yang berorientasi individual ke dalam setting kelompok.
Pada kelompok-kelompok yang menggunakan prosedur desensitisasi sistematik,
teknik-teknik individual diterapkan langsung pada kelompok.
Prosedur
kelompok dianjurkan pula bagi para klien yang mengalami kecemasan berada dalam
situasi-situasi yang spesifik. Kelompok biasanya terdiri atas para partisipan
yang memiliki ketakutan-ketakutan dan kecemasan-kecemasan yang sama. Iklim
kelompok dipandang sebagai agen yang suportif dan memperkuat. Para anggota
kelompok saling memberikan dukungan dalam kegiatan-kegiatan pengambilan resiko,
didalam maupun diluar kelompok, dan perkuatan diberikan bagi
keberhasilan-keberhasilan.
Terapi
implosif dan pembanjiran
Teknik-teknik
pembanjiran berlandaskan paradigma mengenai penghapusan eksperimental. Teknik
ini terdiri atas pemunculan stimulus terkondisi secara berulang-ulang tanpa
pemberian perkuatan. Teknik pembanjiran berbeda dengan teknik desensitisasi
sistematik dalam arti teknik pembanjiran tidak menggunakan agen pengkondisian
balik maupun tingkatan kecemasan. Terapis memunculkan stimulus-stimulus
penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi dan terapis berusaha
mempertahankan kecemasan klien.
Stampfl
(1975) mengembangkan teknik yang berhubungan dengan teknik pembanjiran, yang
disebut “terapi implosif”: seperti halnya dengan desensitisasi sistematik,
terapi implosif berasumsu bahwa tingkah laku neurotik melibatkan penghindaran
terkondisi atas stimulus-stimulus penghasil kecemasan. Terapi implosif berbeda
dengan desensitisasi sistematik dalam usaha terapis untuk menghadirkan luapan
emosi yang masif. Alasan yang digunakan oleh teknik ini adalah bahwa jika
seseorang secara berulang-ulang dihadapkan pada suatu situasi penghasil
kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan tidak muncul, maka
kecemasan tereduksi atau terhapus. Klien diarahkan untuk membayangkan
situasi-situasi (Stimulus-stimulus) yang mengancam. Dengan secara
berulang-ulang dan dimunculkan dalam setting terapi dimana
konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan dan menakutkan tidak muncul,
stimulus-stimulus yang mengancam kehilangan daya menghasilkan kecemasannya, dan
penghindaran neurotik pun terhapus.
Stampfl
(1975) mencatat beberapa contoh bagaimana terapi implosif berlangsung. Ia
melukiskan seorang klien yang mengalami kecenderungan-kecenderungan obsesif
pada kebersihan. Klien mencuci tangannya lebih dari seratus kali sehari dan
memiliki ketakutan yang berlebihan terhadap kuman prosedur-prosedur penanganan
klien mencakup :
1. Pencarian
stimulus-stimulus yang memicu gejala-gejala.
2. Menaksir
bagaimana gejala-gejala berkaitan dan bagaimana gejala-gejala itu membentuk
tingkah laku klien.
3. Meminta
kepada klien untuk membayangkan sejelas-jelasnya apa yang dijabarkannya tanpa
disertai celaan atas kepantasan situasi yang dihadapinya
4. Bergerak
semakin dekat kepada ketakutan yang paling kuat yang dialami klien dan meminta
kepadanya untuk membayangkan apa yang paling ingin dihindarinya.
5. Mengulang
prosedur-prosedur tersebut sampai kecemasan tidak lagi muncul dalam diri klien.
Stampfl
(1975) juga mencatat sejumlah studi yang membuktikan menajuran terapi implosif
dalam menangani para pasien gangguan jiwa yang dirumahsakitkan, para pasien
neurotik, para pasien psikotik, dan orang-orang yang menderita fobia. Stampfl
menyatakan bahwa terapi implosif berbeda dengan terapi-terapi konvensional
dalam arti terapi implosif tidak menekankan pemahaman sebagai agen terapeutik.
Terapi implosif adalah suatu metode langsung yang menantang pasien “untuk
menatap mimpi-mimpi buruknya”.
Latihan asertif
Pendekatan
behavioral yang dengan cepat mencapai popularitas adalah latihan asertif yang
bisa diterapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal di mana individu
mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan
diri adalah tindakan yang layak atau benar. Latihan asertif akan membantu bagi
orang-orang yang;
1. Tidak
mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung,
2. Menunjukan
kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya,
3. Memiliki
kesulitan untuk mengatakan “tidak”,
4. Mengalami
kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respons-respons positif lainnya,
5. Merasa
tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.
Latihan
asertif menggunakan prosedur-prosedur permainan peran. Suatu masalah yang khas
yang bisa dikemukakan sebagai contoh adalah kesulitan klien dalam menghadapi
atasannya di kantor. Misalnya, klien mengeluh bahwa dia acap kali merasa
ditekan oleh atasannya untuk melakukan hal-hal yang menurutnya penilaiannya
buruk dan merugikan serta mengalami hambatan untuk bersikap tegas di hadapan
atasannya itu. Pertama-tama klien memainkan peran sebagai atasan, memberi
contoh bagi terapis, sementara terapis mencontoh cara berpikir dan cara klien
menghadapi atasan. Kemudian, mereka saling menukar peran sambil klien mencoba
tingkah laku baru dan terapis memainkan peran sebagai atasan.Klien boleh
memberi pengarahan kepada terapis tentang bagaimana memaiinkan peran sebagai
atasannya secara realistis, sebaliknya terapis melatih klien bagaimana bersikap
tegas terhadap atasan. Proses pembentukan terjadi ketika tingkah laku baru
dicapai dengan penghampiran-penghampiran. Juga terjadi penghapusan kecemasan
dalam menghadapi kecemasan dan sikap klien yang lebih tegas terhadap atasan
menjadi lebih sempurna.
Tingkah
laku menegaskan diri pertama-tama dipraktekkan dalam situasi permainan peran,
dan dari sana diusahakan agar tingkah laku menegaskan diri itu dipraktekan
dalam situasi-situasi kehidupan nyata.Terapis memberikan bimbingan dengan
memperlihatkan bagaimana dan bilamana klien bisa kembali kepada tingkah laku
semula, tidak tegas, serta memberikan pedomon untuk memperkuat tingkah laku
menegaskan diri yang baru diperolehnya.
Terapi
kelomok latihan asertif pada dasarnnya merupakan penerapan latihan tingkah laku
pada kelompok dengan sasaran membantu individu-individu dalam mengembangkan
cara-cara berhubungan yang lebih langsung dalam situasi-situasi
interpersonal.Fokusnya adalah mempraktekkan, melalui permainan peran,
kecakapan-kecakapan bergaul yang baru diperoleh sehingga individu-individu
diharapkan mampu mengatasi ketakmemandaiannya dan belajar bagaimana
mengungkapkan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran mereka secara lebih
terbukan disertai keyakinan bahwa mereka berhak untuk menunjukkan reaksi-reaksi
yang terbuka itu.
Terapi aversi
Teknik-teknik
pengondisian aversi, telah digunakan secara luas untuk meredakan
gangguan-gangguan behavioral yang spesifik, melibatkan pengasosiasian tingkah
laku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai tingkah laku yang
tidak diinginkan terhamabat kemunculannya.Stimulus-stimulus aversi biasanya
berupa hukuman dengan kejutan listrik atau pemebrian ramuan yang membuat
mual.Kendali aversi bisa melibatkan penarikan pemerkuat positif atau penggunaan
berbagai bentuk hukuman.
Teknik-teknik
aversi adalah metode-metode yang paling kontroversional yang dimiliki oleh para
behavioris meskipun dugunakan secara luas sebagai metode-metode untuk membawa
orang-orang kepada tingkah laku yang
diinginkan. Kondisi-kondisi diciptakan sehingga orang-orang melakukan apa yang
diharapkan dari mereka dalam rangka menghindari konsekuensi-konsekuensi
aversif. Sebagai besar lembaga social mengunakan prosedur-prosedur aversif
untuk mengendalikan para anggotanya dan untuk membentuk tingkah laku individu
agar sesuai dengan yang telah digariskan: gereja menggunakan pengucilan,
perusahaan-perusahaan menggunakan pemecatan dan penangguaha pembayaran upah,
sedangkan pemerintah menggunakan denda dan hukuman penjara.
Kendali
aversif acap kali menandai hubungan orang tua-anak.Kendali-kendali bisa bekerja
secara langsung dan disadari, dan bisa pula secara tidak langsung terselubung.
Dalam
setting yang lebih formal dan terapeutik, teknik-teknik aversif sering
dugunakan dalam pennanganan berbagai tingkah laku yang maladaptive, sencakup
minuman alcohol secara berlebihan, ketergantungan pada obat bius, meroko,
obsesi-obsesi, komplusi-komplusi, fetisisme, berjudi, homoseksualitas, dan
penyimpangan seksual seperti pedofilia.
Butir
yang penting adalah bahwa maksud prosedur-prosedur aversif ialah menyajikan
cara-cara menahan respons-respons maladaptive dalam suatu periode sehingga
terdapat kesempatan untuk memperoleh tingkah laku alternative yang adaptif dan
yang akan terbukti memperkuat dirinya sendiri. Satu kesalahpahaman yang popular
adalah bahwa teknik-teknik yang berlandasan hukuman merupakan perangkat yang
paling penting bagi para terapis tingkah laku.Hukuman jangan sering digunakan
meskipun mungkin para klien sendiri menginginkan penghapusan tingkah laku yang
tak diinginkannya melalui pengunaan hukuman.Apa bila cara-cara yang merupakan
alternative bagi hukuman tersedia, maka hukuman jangan digunakan. Cara-cara
yang positif yang mengarah pada tingkah laku yang baru dan lebih layak harus
dicari dan digunakan sebelum terpaksa menggunakan pemerkuat-pemerkuat negatif.
Skinner
(1948,1971) adalah salah seorang tokoh yang terang-terangan menentang
penggunaan hukuman sebagai cara untuk mengendalikan hubungan-hubungan manusia
ataupun untuk mencapai maksud-maksud lembaga masyarakat. Menurut Skinner,
perkuatan positif jauh lebih efektif dalam mengendalikan tingkah laku karena
hasil-hasilnya lebih dapat diramalkan serta kemungkinan timbulnya tingkah laku
yang tidak diinginkan akan lebih kecil. Skinner (1984) berpendapat bahwa
hukuman adalah sesuatu yang buruk meskipun bisa menekan tingkah laku yang
diinginkan, namun tidak melemahkan kecenderungan untuk merespons bahkan
kalaupun untuk sementara menekan tingkah laku tertentu.Akibat-akibat yang tidak
diinginkan, menurut Skinner, berkaitan dengan penggunaan pengendalian aversif
maupun penggunaan hukuman.
Apabila
hukuman digunakan, maka terdapat kemungkinan terbentuknya efek-efek samping
emosional tambahan seperti:
1. Tingkah
laku yang tidak diinginkan yang dihukum boleh jadi akan ditekan hanya apabila
penghukum hadir
2. Jika
tidak ada tingkah laku yang menjadi alternetif bagi tingkah laku yang dihukum,
maka individu akan ada kemungkinan menarik diri secara berlebihan
3. Pengaruh
hukuman boleh jadi digeneralisasikan kepada tingkah laku lain yang berkaitan
dengan tingkah laku yang dihukum.
Jadi,
seorang anak yang dihukum karena kegagalannya di sekolah boleh jadi akan
membenci semua pelajaran, sekolah, semua guru, dan barangkali bahkan membenci
belajar pada umumya.
Pengondisian operan
Tingkah
laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme
aktif.Ia adalah tingkah laku beroprasi di lingkungan untuk menghasilkan
akibat-akibat.Tingkah laku operan merupakan tingkah laku yang palling berarti
dalam kehidupan sehari-hari, yang mencakup membaca, berbicara, berpakaian,
makan dengan alat-alat makan, bermain, dan sebagainya. Menurut Skinner (1971),
jika suatu tingkah laku diganjar, maka probabilitas kemungkinan muncul kembali
tingkah laku tersebut di masa mendatang akan tinggi. Prinsip perkuatan yang
menerangkan pembenntukan, pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah
laku, merupakan inti dari pengkondisian operan.Berikut ini uraian ringkas dari
metode-metode pengkondisian operan yang mencakup penguatan positif,
pembenntukan respons, perkuatan intermiten, penghapusan, pencontohan, dan token
economy.
Perkuatan positif
Pembentukan
suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau perkuatan segera
setelah tingkh laku yang diharapkan muncul adalah suatu cara yang ampuh untuk
mengubah tingkah laku. Pemerkuat-pemerkuat, baik primer maupun sekunder,
diberikan untuk rentang tingkah laku yang luas.Pemerkuat-pemerkuat primer
memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis.Contoh pemerkuat primer adalah makan
dan tidur atau istirahat.Pemerkuat-pemerkuat sekunder, yang memuaskan
kebutuhan-kebutuhan psikologis dan social, memiliki nilai karena bersosialisasi
dengan pemerkuat-pemerkuat sekunder. Penerapan pemeberian perkuatan positif
pada psikoterapi membutuhkan spesifikasi tingkah laku yang diharapkan, penemuan
tentang apa agen yang memperkuat bagi individu, dan penggunaan perkuatan
positif secara sistematis guna memunculkan tingkah laku yang diinginkan.
Pembentukan respons
Dalam
pembentukan respons, tingkah laku sekarang secara bertahap diubag dengan
memperkuat unsur-unsur kecil dari tingkah laku baru yang diinginkan secara
berturut-turut smapai mendekati tingkah laku akhir.Pembentukan respons berwujud
pengembangan suatu resspons yang pada mulanya tidak terdapat dalam
perbendaharaan tingkah laku individu. Perkuatan sering digunakan dalam proses
pembentukan respons ini. Pada anak autis yang tingkah laku motoric, verbal,
emosional, dan sosialnya kurang adaptif, terapis bisa membentuk tingkah laku
yang lebih adaptif dengan memberikan pemerkuat-pemerkuat perimer maupun
sekunder.
Perkuatan intermiten
Disamping
membentuk perkuatan-perkuatan bisa juga digunakan untuk memelihara tingkah laku
yang telah terbentuk.Untuk memaksimalkan nilai pemerkuat-pemerkuat, terapis
harus memahami kondisi-kondisi umum di mana perkuatan-perkuatan muncul.Oleh
karenanya, jadwal-jadwal perkuatan merupakan hal yang penting. Perkuatan
terus-menerus mengganjar tingkah laku setiap ia kali muncul. Sedangkan
perkuatan intermiten diberikan secara bervariasi kepada tingkah laku yang
spesifik.Tingkah laku yang dikondisikan melalui pemberian perkuatan yang
terus-menerus.
Dalam
menerapkan pemberian perkuatan pada pengubahan tingkah laku, pada tahap-tahap
permulaan terapis harus mengganjar setiap terjadi munculya tingkah laku yang
diinginkan.Jika mungkin, perkuatan-perkuatan diberikan segera setelah tingkah
laku yang diinginkan itu muncul. Dengan cara ini, penerimaan perkuatan akan
belajar, tingkah laku spesifik apa yang diganjar. Bagaimanapun, setelah tingkah
laku yang diinginkan itu meningkat frekuensi kemunculannya, frekuensi pemberian
perkuatan bisa dikurangi.
Penghapusan
Apabila
suatu respons terus-menerus dibuat tanpa ada perkuatan, maka respons tersebut
cenderung menghilang. Dengan demikian, karena pola-pola tingkah laku yang
dipelajari cenderung meleha dan terhapus setelah suatu periode, cara untuk
menghapus tingkah laku maladaptive, adalah menarik perkuatan dari tingkah laku
maladaptive itu. Penghapusan dalam kasus semacam ini boleh terjadi lamban
karena tingkah laku yang akan dihapus telah diperliharan oleh perkuatan
intermiten dalam jangka waktu lama. Wolpe (1969) menekankan bahwa penghentian
emberian perkuatan harus serentak dan penuh. Misalnya, jika seorang anak
menunjukan kebandelan di rumah dan di sekoah, orang tua dan gru si anak bisa
menghindari pemberian perhatian sebagai cara untuk menghapus kebandelan anak
tersebut. Pada saat yang sama perkuatan positif bisa diberikan kepada si anak
agar belajar tingkah laku yang diinginkan.
Percontohan
Dalam
percontohan, individu mengamati sebuah model dan kemudian diperkuat untuk
mencontoh tingkah laku sang model. Bandura (1969) menyatakan bahwa belajar yang
bisa diperoleh melalui pengalaman langsung bisa pula diperoleh secara tidak
langsung dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut
konsekuensi-konsekuensinya. Jadi, kecakapan-kecakapan social tertentu bisa
diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah aku model-model yang ada.
Token economy
Metode
token economy dapat digunakan untuk
membentuk tingkah laku apabila persetujuan dan pemerkuat-pemerkuat yang tidak
bisa diraba lainnya tidak memberi pengaruh.Dalam token economy, tingkah laku yang layak bisa diperkuat dengan
perkuatan-perkuatan yang bisa diraba (tanda-tanda seperti kepingan logam) yang
nantinya bisa ditukar dengan objek-objek atau hak istimewa yang diingini.
Penggunaan tanda-tanda sebagai pemerkuat-pemerkuat bagi tingkah laku yang layak
memiliki beberapa keuntungan, yaitu;
1. Tanda-tanda
tidak kehilangan nialai insentifnya,
2. Tanda-tanda
bisa mengurangi penundaan yang ada di antara tingkah laku yang layak dengan
ganjarannya,
3. Tanda-tanda
bisa digunakan sebagai pengukur yang kongkret bagi motivasi individu untuk
mengubah tingkah laku tertentu,
4. Tanda-tanda
adalah bentuk perkuatan yang positif,
5. Individu
memiliki kesempatan untuk memutuskan bagaimana menggunakan tanda-tanda yang
diperolehnya,
6. Tanda-tanda
cenderung menjembatani kesenjangan yang sering muncul di antara lembaga dan
kehidupan sehari-hari.
Token economy merupakan salah satu contoh dari perkuatan yanf ekstrinsik, yang menjadikan orang-orang melakukan sesuatu untuk meraih “pemikat di ujung tongkat”.Tujuan prosedur ini adalah mengubah motivasi yang ekstrinsik menjadi motivasi yang intrinsic. Diharapkan bahwa perolehan tingkah laku yang diinginkan akhirnya dengan sendirinya akan menjadi cukup mengganjar untuk memelihara tingkah laku yang baru.
DAPUS
Bastaman, H.D. (2007).
Logoterapi “Psikologi untuk Menemukan
Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna”. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 3.
Yogyakarta : Kanisius.
Videbeck, L.S. (2008). Keperawatan Jiwa.
Jakarta : Anggota IKAPI.
Latipun. (2001). Psikologi konseling. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar